Serba Salah Dampak Perlambatan Cina
JAKARTA – Krisis properti Cina berpotensi merambat pada kinerja perdagangan internasional Indonesia. Terlebih, ketika raksasa pengembang properti Cina tersungkur ke jurang kebangkrutan seperti yang terjadi pada grup Evergrande. Perusahaan tersebut mengumumkan pailit pada 17 Agustus 2023 setelah mengalami krisis likuiditas berkepanjangan dan gagal bayar utang sebesar US$ 330 miliar atau setara dengan Rp 4.950 triliun (asumsi kurs 15 ribu per dolar Amerika Serikat).
Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia, Toto Dirgantoro, mengatakan krisis sektor properti Negeri Tirai Bambu berpotensi menekan kinerja ekspor, khususnya ekspor komoditas utama serta ekspor bahan baku bangunan, seperti batu bara, besi, baja, dan kayu. "Cina adalah konsumen terbesar komoditas Indonesia. Penurunan permintaan juga akan berdampak pada pelemahan harga komoditas dan kinerja ekspor secara keseluruhan," ujarnya kepada Tempo, kemarin, 25 Agustus 2023.
Pelaku usaha, kata dia, mulai merasakan kelesuan permintaan dalam dua bulan terakhir, yang disebabkan oleh banyaknya perusahaan Cina yang menutup operasi atau mengurangi kapasitas produksi dan pembangunan. Toto berujar, pelaku usaha pun kelimpungan mencari pasar alternatif untuk menyerap suplai yang dimiliki karena kondisi krisis perekonomian itu tengah menjalar ke berbagai negara. "Posisinya serba salah. Ke Cina krisis, ke Amerika Serikat dan Eropa juga sedang krisis."
(Yetede)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023