Reksadana Berbasis Obligasi Bisa Kembali Mendaki
Kekhawatiran terkait ekonomi China yang masih sulit dan inflasi di Amerika Serikat (AS), menyebabkan risiko investasi meningkat. Terlihat dari tren
yield
obligasi pemerintah acuan yakni FR96 tenor 10 tahun yang naik ke 6,5% pada Kamis (24/8).
Dalam sepekan,
yield
naik delapan basis poin (bps) dari 6,42%. Dalam sebulan
yield
sudah naik 28 bps. Analis menilai, investor bisa memanfaatkan momentum masuk reksadana pendapatan tetap atau reksadana pasar uang.
Direktur Panin Asset Management (Panin AM), Rudiyanto mengatakan
yield
yang naik menandakan harga obligasi sedang turun, berarti harga sedang murah. Sehingga saat ini menjadi momentum untuk masuk dan membeli di reksadana, khususnya reksadana pendapatan tetap yang memiliki
underlying
obligasi. "
Yield
akan turun jika inflasi AS terkendali," katanya, Rabu (23/8).
Salah satu produk reksadana pendapatan tetap Panin yakni Panin Gebyar Indonesia II sejak Januari 2023 hingga Juli 2023 berhasil mencatat
return
7,44%, berdasarkan data Infovesta Utama. Pencapaian itu di atas rata-rata indeks reksadana tetap per Juli 2023 yang sebesar 3,3,90%.
Associate Director Fixed Income
Anugerah Sekuritas, Ramdhan Ario Maruto menambahkan, potensi imbal hasil memang tidak lepas dari risiko terhadap pilihan instrumen. Di sisi lain, pergerakan harga surat utang sekarang banyak dipengaruhi oleh faktor global.
Tags :
#PortofolioPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023