;

Mengalap Cuan dari Sumber Ekonomi Hijau

Mengalap Cuan dari Sumber Ekonomi Hijau

Seiring upaya mencapai net zero emission, potensi bisnis energi baru terbarukan (EBT) makin menjanjikan di kawasan Asia Tenggara. Lantaran perusahaan minyak dan gas bumi serta yang bergulat di energi fosil mulai merambah sektor energi hijau. Senior Analyst Supply Chain Rystad Energy, Afiqah Mohd. Ali dalam laporannya meramal komitmen investasi EBT di Asia Tenggara diproyeksi bisa US$ 76 miliar dari 2023 hingga 2025. Dan di akhir 2027 nantinya nilainya tembus US$ 119 miliar. Investasi di segmen EBT akan mengalir deras ke proyek pembangkit listrik tenaga angin, tenaga surya, dan panas bumi (geotermal). Analis Panin Sekuritas Felix Darmawan menilai, potensi bisnis EBT cukup besar. Terlebih Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan kontribusi energi terbarukan pada bauran energi primer mencapai 31% pada 2050 dari sebelumnya 14,1% pada 2022. Tak heran jika sejumlah emiten mulai masuk ke bisnis EBT. Terkini, ada PT United Tractors Tbk (UNTR) yang masuk ke bisnis geothermal. UNTR via perusahaan terkendalinya Energia Prima Nusantara (EPN), mengakuisisi 40,47% saham Supreme Energy Sriwijaya yakni Rp 634,94 miliar atau US$ 42,32 juta. Selain UNTR, PT Indika Energy Tbk (INDY) juga masuk ke bisnis pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Pada 2021, Indika Energy dan Fourth Partner Energy mendirikan Empat Mitra Indika Tenaga Surya (EMITS). Katalis positif juga datang dari implementasi bursa karbon yang bakal digelar September nanti. Analis BRI Danareksa Sekuritas Hasan Barakwan meyakini, bursa karbon dapat menjadi katalis positif bagi PGEO. Sedangkan analis Sinarmas Sekuritas Axel Leonardo mempertahankan rating netral terhadap saham INDY dengan target harga Rp 2.100 per saham.

Tags :
#Umum #
Download Aplikasi Labirin :