Mewaspadai Efek Selisih Bunga yang Kian Sempit
Arah suku bunga sejumlah bank sentral masih akan menjadi penentu pergerakan pasar keuangan dalam beberapa pekan ke depan. Yang jadi perhatian pasar dalam negeri, kini selisih suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) dan bank sentral Amerika Serikat Federal Reserve semakin menyempit.
Pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang digelar pada 23-24 Agustus 2023, sejumlah ekonom dan analis keuangan memproyeksikan BI tetap mempertahankan bunga acuan. Alhasil, jarak bunga acuan Fed dan BI 7-
days reverse repo rate
cuma berselisih tipis antara 0,25%-0,5%. Saat ini suku bunga acuan BI ada di posisi 5,75%, sementara bunga Fed ada di level 5,25%-5,50%. Situasi ini dikhawatirkan memicu arus keluar dana asing dari pasar keuangan Indonesia. Dalam sepekan terakhir, misalnya, sekitar Rp 3,6 triliun dana asing keluar dari bursa saham dalam negeri.
Toh,
Associate Director of Research and Investment
Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan, menyempitnya
spread
bunga Fed dan BI Rate karena fundamental Indonesia menguat, Tapi, peringkat Indonesia masih BBB. Sedangkan peringkat AS di posisi AAA.
Research & Education Coordinator
Valbury Asia Futures, Nanang Wahyudin sepakat, kenaikan bunga Fed yang kemungkinan terjadi pada September atau November bisa membuat investor kian memburu dollar AS. Sehingga rupiah dan IHSG mengalami tekanan. Namun, Nanang menilai kondisi ini hanya bersifat sementara. Pasar melihat ruang kenaikan suku bunga akan berakhir dan terbuka ruang terjadi pemangkasan pada tahun depan.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023