LAYANAN PESAN ANTAR MELAMBAT : PLATFORM AGAR BERINOVASI
Layanan pesan antar makanan atau online food delivery (OFD) pernah mencapai puncak kejayaan selama masa pandemi Covid-19. Adanya pembatasan sosial membuat masyarakat tidak bisa menikmati makanan secara langsung di restoran sehingga tidak sedikit di antara mereka yang mengandalkan layanan online tersebut. Seiring dengan kondisi yang mulai kembali normal, kini banyak masyarakat memilih untuk membeli makanan secara langsung. Hal ini sejalan pula dengan data dari Momentum Works yang mencatat pertumbuhan nilai transaksi bruto atau gross merchandise volume (GMV) layanan online food delivery di Asia Tenggara pada 2022 mengalami perlambatan. Berdasarkan data tersebut, pertumbuhan GMV online food delivery pada 2022 secara year on year hanya tercatat 5% menjadi US$16,3 miliar. Angka tersebut jauh di bawah pertumbuhan nilai GMV pada tahun-tahun sebelumnya, di mana pada 2020 melonjak 183% menjadi US$11,9 miliar, dan pada 2021 yang meningkat hingga 30% mencapai US$15,5 miliar. Kondisi ini diamini oleh Catherine Hindra Sutjahjo, Presiden Gojek untuk Bisnis on Demand Services GoTo yang mengakui bahwa selama masa pandemi banyak masyarakat yang memanfaatkan layanan OFD dan umumnya memesan dalam jumlah besar. Namun, ketika masuk masa endemik dan kondisi mulai normal maka banyak masyarakat yang memesan makanan secara langsung. Meski demikian, menurutnya pemesanan online di GoFood tidak pernah benar-benar turun. Ketua Umum Apkulindo & Perkumpulan Pengusaha Kuliner Kreatif Indonesia, Masbukhin Pradhana mengatakan jika pengusaha kuliner memang harus menerima tren digital ini. Bergabung dalam layanan pesan antar makanan berpeluang membuka ceruk baru dari pasar yang mungkin belum terjamah sebelumnya. Meski terbilang membantu, Masbukhin menilai tren penjualan dari layanan antar makanan tahun ini cenderung lesu. Ada beberapa faktor yang menyebabkan kurang bergairahnya penjualan dari layanan pesan antar seperti dahulu. Misalnya, ketiadaan promosi ongkos kirim gratis yang sukses membuat layanan ini ramai pada awal kemunculan, “Promo free ongkir nya sudah tidak ada, malah cenderung naik dengan adanya tambahan biaya layanan,” jelas Masbukhin. Sementara itu, Andi Ihdal Husnayain, mitra merchant dan pemilik usaha Ayam Bakar & Soto Betawi Ibu Titin mengakui setelah masa pandemi memang terjadi shifting pembeli dari online ke offline. Namun, ketika mulai banyak yang membeli secara langsung, tidak serta merta membuat pemesanan secara online menurun.
Tags :
#UmumPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023