Menyalakan Gairah Merger dan Akuisisi
Realisasi aktivitas merger dan akuisisi pada 2022 menjadi tahun pencapaian terendah sepanjang sejarah bisnis dan ekonomi global. Nilai kesepakatan anjlok 37% dari rekor tertinggi pada 2021 menjadi US$3,61 triliun. JP Morgan bahkan mencatat, itu menjadi penurunan terdalam sejak 2001 ketika secara nilai pernah merosot hingga 50% menjadi US$1,68 triliun. Ada banyak faktor yang menjadi sentimen rendahnya aktivitas merger dan akuisisi tahun lalu. Beberapa di antaranya karena perusahaan menghadapi beragam tantangan pembiayaan, termasuk kenaikan suku bunga, penurunan leverage keuangan, kegelisahan di pasar obligasi, hingga dihantui kemungkinan resesi ekonomi. Kami pun meyakini bahwa tantangan pembiayaan menjadi pertimbangan utama yang mengganggu proses kesepakatan tahun lalu. Tak sedikit perusahaan terpaksa melakukan penyesuaian dengan cara menghindari gejolak pasar atau meminimalkan pendanaan. Namun, situasi mulai berbalik arah pada tahun ini. Pelaku usaha mulai beradaptasi. Mereka mulai melakukan perubahan dalam menyusun kesepakatan merger dan akuisisi, dengan menggunakan volatilitas di pasar keuangan untuk menggali keuntungan serta memanfaatkan diskon biaya dana sebaik mungkin. Tak heran, berdasarkan laporan dari S&P Global, kesepakatan merger dan akuisisi dengan nilai lebih dari US$10 miliar meningkat selama paruh pertama 2023 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu kendati secara aktivitas masih relatif sepi. Akuisisi Toshiba Corporation oleh Suzuki Motor Corp. dan ROHM Co. juga tak kalah menarik. Akuisisi ini menguntungkan kedua belah pihak. Toshiba berkepentingan menjaga perusahaan tetap hidup dan sumber dayanya terutilisasi lebih baik. Ini juga membuka kesempatan Suzuki dan ROHM untuk bersaing langsung dengan konglomerasi bisnis Jepang lainnya. Nilai aksi merger dan akuisisi terbesar dilakukan oleh PT United Tractors Tbk. (UNTR) yang mengakuisisi 19,9% saham Nickel Industries Limited senilai Rp9,38 triliun, melalui anak usahanya yakni PT Danusa Tambang Nusantara. Selain UNTR, terdapat beberapa perusahaan tambang yang juga melakukan aksi akuisisi seperti PT Petrosea Tbk. (PTRO), PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk. (BIPI), PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA), dan PT Central Omega Resources Tbk. (DKFT).
Tags :
#OpiniPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023