;

Nelayan Mentawai Kesulitan Mendapat Es

28 Jul 2023 Kompas
Nelayan Mentawai Kesulitan Mendapat Es

Nelayan di kawasan Pulau Pagai Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumbar, kesulitan mendapatkan es untuk penyimpanan ikan hasil tangkapan. Pabrik es di Sikakap, Kepulauan Mentawai, jarang beroperasi karena terkendala listrik. Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah Pelabuhan Perikanan Wilayah III Sumbar Yofrianto mengakui, pabrik es dengan kebutuhan listrik 120 kVA itu jarang beroperasi disebabkan kurangnya suplai listrik dari PLN. ”Sudah dua tahun begini. Kadang-kadang kami berproduksi dalam sebulan hanya satu atau dua kali,” kata Yofrianto, Kamis (27/7). Kondisi pabrik yang jarang berproduksi itu membuat nelyan di sekitar Pulau Pagai Utara dan Pulau Pagai Selatan kesulitan mendapatkan es. Padahal, keberadaan pabrik yang dikelola Dinas Kelautan dan Perikanan Sumbar itu sangat dibutuhkan nelayan karena bisa menghasilkan 15 ton es sekali produksi.

Yofrianto berharap pabrik es itu mendapat suplai listrik dari PLN secara normal. Alternatif lainnya, diharapkan ada bantuan pembangkit listrik tenaga surya bagi pabrik es. Jertianus Madogaho (47), nelayan sekaligus penampung gurita di Desa Sinaka, Kecamatan Pagai Selatan, Kepulauan Mentawai, mengaku kesulitan mendapatkan es balok sejak pabrik di Sikakap itu jarang beroperasi. Ia pun terpaksa memakai es bungkus yang dibuat dengan freezer untuk menyimpan gurita. ”Kalau tidak ada es bungkus ukuran 1 kg itu, mungkin nelayan tidak bisa lagi menangkap dan menyimpan gurita. Kesulitan ini salah satu kendala nelayan,” kata Jerti. Penggunaan es bungkus membuat biaya membengkak. Setiap pekan, Jerti butuh 150 kg es untuk menyimpan gurita, dengan pengeluaran Rp 150.000, jika menggunakan es balok ukuran 50 kg produksi pabrik, hanya dibutuhkan tiga balok Rp 75.000. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :