;

Menjadi ”Frugal” Tanpa Merana

Ekonomi Yoga 30 Jul 2023 Kompas
Menjadi ”Frugal” Tanpa Merana

Kebimbangan menjadi frugal, normal dirasakan siapa saja yang berniat menjalaninya. Mengikis ragu, tiap orang bisa memulai laku hemat berbeda. Frugal berarti berpola pikir membebaskan diri dari tekanan finansial. Tren hidup frugal menggapai popularitasnya lagi selama pandemi Covid-19 melanda dan setelah status wabah global itu dicabut. Dampak pagebluk yang menyebabkan banyak aktivitas dan pekerjaan terhenti sampai saat ini. Banyak orang terpaksa hidup kekurangan dan kian merana, terlebih jika telanjur berutang sana-sini demi memenuhi kebutuhan hidup. Frugal kemudian menjadi tempat berpaling satu-satunya bagi banyak orang untuk bertahan. Bagi sebagian orang di negara maju, berhemat makanan antara lain berarti mengurangi konsumsi daging. Di negara berkembang, bisa jadi sekadar nasi, sayur, kerupuk, dan gorengan.

Penghematan kemudian melebar ke berbagai hal, termasuk mengurangi penggunaan listrik, membatasi hingga menghentikan sementara pembelian pakaian baru, beralih memakai transportasi publik, menjual rumah untuk melunasi cicilan dan pindah ke tempat yang lebih kecil. Di Indonesia, terutama di perkotaan, dampak wabah korona ditandai dengan makin banyak pekerja informal. Fenomena badut jalanan, misalnya, sebagian di jalani oleh orang-orang yang mengalami PHK. Bagi mereka yang masih memiliki pekerjaan tetap, hidup hemat tetap menjadi pilihan, karena rata-rata belum ada peningkatan penghasilan signifikan meski pandemi dianggap telah berlalu dan aktivitas pekerjaan kembali normal. Frugal kemudian lebih melekat pada pola hidup pas-pasan dan semata strategi untuk bertahan. Fase hidup merana yang dipoles dengan nama ”hemat dan sederhana” demi membesarkan hati. Jika kondisi ekonomi normal atau menjadi lebih baik, ada kemungkinan pola hidup suka-suka bakal dijalankan kembali. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :