;

Tabah Menghadapi ”Hujan” Tagihan di Bulan Juli

Tabah Menghadapi ”Hujan” Tagihan di Bulan Juli

Juli mendekati akhir. Sistem zonasi penerimaan siswa sekolah negeri yang bermasalah bukan satu-satunya persoalan. Pendapatan warga miskin sampai kelas menengah sama-sama terkuras, bahkan berutang, demi sekolah anak. Juni-Juli adalah waktu puncak pergulatan yang dimulai 1-2 bulan sebelum tahun ajaran baru Di tengah membidik sekolah yang tepat, orangtua harus menyeimbangkan anggaran pendapatan dan belanja keluarga. Tujuan akhir sistem zonasi PPDB adalah mewujudkan kesetaraan kualitas semua sekolah dan menjamin anak-anak bisa ke sekolah negeri yang paling dekat rumahnya. Dengan begitu, masyarakat diuntungkan karena biaya sekolah negeri ditanggung pemerintah. Sebagai daerah kaya, DKI Jakarta merangkul sejumlah sekolah swasta. Dengan program itu, anak usia sekolah yang tak lolos PPDB bisa melanjutkan ke sekolah swasta secara gratis. Walakin, tak semua sekolah swasta bisa dan mau digandeng DKI.

Di luar itu, cita-cita menyediakan fasilitas pendidikan formal berkualitas dan terjangkau semua warga lewat sistem zonasi PPDB belum tercapai. Bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang menurut standar pemerintah berpenghasilan maksimal Rp 7 juta per bulan dan warga miskin berpendapatan jauh di bawah itu, sekolah gratis pemerintah sangat membantu. Jika harus memasukkan ke sekolah swasta, berbagai tagihan menanti. Sekolah swasta setara SMP di Jakarta dan sekitarnya yang tergolong mematok biaya paling murah, uang pangkalnya bisa Rp 3 juta-Rp 7 juta. Daftar ulang saat naik kelas, termasuk uang pembelian buku pelajaran, bisa setara dengan uang pangkal atau sedikit lebih murah. SPP per bulan Rp 150.000 sampai Rp 500.000. Belum lagi ongkos pulang pergi ke sekolah, seragam dan perlengkapan sekolah, makan/jajan, biaya kegiat-an ekstrakurikuler, dan lainnya.

Total biaya pendidikan anak di sekolah swasta di atas 20 % dari pendapatan per bulan MBR. Hal itu memberatkan mengingat biasanya masih ada biaya cicilan rumah, layanan kesehatan, transportasi, dan kebutuhan harian lain yang harus dipenuhi. Setiap keluarga dipaksa mengirit berbagai pos pengeluaran lain agar biaya pendidikan terjamin. Mendekati ujung Juli, lega rasanya dapat memastikan anak dapat kembali bersekolah. Di tengah kelegaan itu, gundah menghinggapi banyak orangtua dari berbagai kelas ekonomi yang memikirkan pemenuhan kebutuhan seiring pendapatan yang tetap, tetapi utang bertambah. Tetaplah tabah wahai pejuang masa kini dan masa depan dalam menghadapi ”hujan” tagihan di bulan Juli.  (Yoga)


Tags :
#Isu Lokal
Download Aplikasi Labirin :