NERACA PERDAGANGAN, Perbaikan Bergantung pada Daya Saing Produk dan Kebijakan Menjelang Pemilu
Setelah merosot sepanjang semester I-2023, Indonesia diyakini dapat memperbaiki kinerja neraca perdagangan pada paruh kedua tahun ini asalkan produk ekspornya berdaya saing. Selain itu, kinerja ekspor-impor yang berkaitan dengan produksi bergantung pada kebijakan pemerintah bagi pelaku industri. BPS merilis, Senin (17/7) surplus neraca perdagangan sepanjang semester I-2023 senilai 19,93 miliar USD atau terkontraksi 20,24 % dari posisi pada periode sama tahun sebelumnya. Nilai total ekspor merosot 8,86 % jadi 128,66 miliar USD. Adapun nilai total impor turun 6,42 % jadi 108,73 miliar USD. Berdasarkan sektornya, ekspor industri pengolahan pada semester I-2023 senilai 91,47 miliar USD, merosot 10,19 % secara tahunan.
Menurut penggunaan barang, impor bahan baku/penolong anjlok 11,14 % menjadi 80,06 miliar USD. Pengajar Ekonomi Internasional Fakultas Ekonomika dan Bisnis Undip, Esther Sri Astuti, berpendapat, kinerja semester I-2023 menunjukkan ”wajah” asli kinerja neraca perdagangan Indonesia. ”Pada semester I tahun lalu, ekspor Indonesia terbantu oleh fenomena commodity windfall yang membuat harga sejumlah komoditas di pasar global tergolong tinggi,” ujarnya saat dihubungi, Rabu (19/7). Kinerja perdagangan pada semester II-2023, bergantung pada daya saing produk ekspor Tanah Air. Jika Indonesia dapat memproduksi barang-barang dengan mutu tinggi dan harga bersaing, permintaan pasar global akan naik. Realisasi hilirisasi juga perlu diperkuat agar Indonesia dapat mengekspor produk bernilai tambah, bukan barang mentah. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023