;

Dari Sampah Jadi Berkah

Dari Sampah Jadi Berkah

Manusia kini hidup di era digital dan dipermudah dengan berbagai inovasi teknologi. Salah satu persoalan yang membayangi era digital adalah timbunan sampah elektronik. Apabila tidak ditangani  dengan tepat, zat berbahaya dan beracun pada sampah elektronik itu dapat mencemari tanah, bahkan  air. Menurut Aulia Qisthi, yang studi di University of Technology Melbourne bidang pengelolaan limbah elektronik, volume sampah elektronik di Indonesia terus membesar. Tahun 2000 diperkirakan ada 286 kiloton sampah elektronik atau 1,37 kilogram per orang. Tahun 2020, volume sampah naik menjadi 1.862 kiloton, dan diperkirakan mencapai 3.200 kiloton pada 2040. Tahun 2001, ada 40 juta komputer tidak terpakai yang saat itu sebagian ditengarai juga masuk ke Indonesia.

Indonesia kemudian menjadi lokasi akhir dari barang-barang elektronik yang berakhir menjadi sampah elektronik. Dengan volumenya yang besar, potensi ekonomi daur ulang sampah elektronik di Indonesia sesungguhnya juga besar. Aulia Qisthi mengestimasi potensinya pada tahun 2020 mencapai 1,8 miliar USD (Rp 26,92 triliun). Jepang, secara demonstratif, telah mendaur ulang sampah elektronik. ”Kami secara resmi ingin mengonfirmasikan bahwa medali #Tokyo2020 tidak bisa dimakan! Medali kami dibuat dari materi daur ulang perangkat elektronik yang didonasikan publik Jepang,” cuit panitia Olimpiade 2000. Baik Jepang maupun negara maju lain seperti Jerman memang sangat peduli terhadap pengolahan sampah. Kini kita hargai pula upaya Pemprov DKI Jakarta dengan pihak swasta untuk mengelola sampah elektronik (e-waste). (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :