Bank Harus Turunkan Bunga Kredit
Perbankan perlu didorong untuk menurunkan suku bunga kredit. Ini seiring dengan laju inflasi dalam negeri yang sudah turun ke level 3,52% pada Juni 2023, laju terendah sejak April 2022.
Penurunan bunga kredit penting untuk mendorong ekonomi bisa bergerak lebih lincah. Apalagi, saat ini kondisi likuiditas perbankan juga masih longgar.
Memadainya likuiditas tersebut tercermin dari data Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Loan to deposit rasio (LDR) bank per Mei 2023 masih di level 82,12%. Rasio alat likuid terhadap DPK juga masih di level 27,52%, jauh dari ambang batas ketentuan di 50%.
Di saat bunga dana masih belum bergerak signifikan, bunga kredit perbankan justru tercatat masih terus meningkat. Berdasarkan data olahan Bank Indonesia (BI), rata-rata bunga kredit perbankan pada Mei 2023 mencapai 9,37%, naik dari 9,15% pada Desember 2022.
Di sisi lain, margin bunga bersih alias
net interest margin
(NIM) perbankan di Indonesia juga masih tinggi, jauh di atas negara-negara di Asia. NIM ini masih berlanjut naik. Jika per Desember 2022 ada di level 4,71%, di Mei 2023 NIM sudah di level 4,79%.
Pengamat dan Guru Besar Universitas Indonesia Budi Frensidy juga menilai perlu ada penurunan suku bunga kredit perbankan. Namun, dia melihat perbankan tidak akan mudah melakukan penurunan tersebut.
Menurut dia, bunga kredit bersifat tricky untuk penyesuaian ke bawah.
Sementara pengamat perbankan Universitas Bina Nusantara Doddy Ariefianto menilai, penurunan inflasi tidak serta merta akan membuat bunga kredit turun. Alasannya, perbankan Tanah Air saat ini cenderung kurang efisien.
Tags :
#PerbankanPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023