KESEHATAN MENTAL, Bahagia Setengah Mati, Setengah Mati untuk Bahagia
Bagi sebagian orang, K-pop adalah alasan bertahan hidup. Tahun 2017-2018 bukan tahun mudah buat Asniaty Mariana Hutabalian (28). Kuliahnya tidak berjalan mulus. Cintanya kandas. Teman-temannya lulus dan meninggalkan kampus, dan ibunya meninggal. Ia sempat merasa kesepian dan kehilangan kepercayaan diri. Di tengah keterpurukan itu, ia memutuskan terbang ke Kuala Lumpur, Malaysia, menonton konser EXO untuk melepas stres sekaligus ajang bertemu Byun Baekhyun, personel EXO yang kerap dijuluki happy virus dan sosok yang sangat positif. ”Ada perkataan Baekhyun di salah satu interview (wawancara) pada 2016 yang jadi peganganku. ’Aku pikir tidak ada yang tidak bisa aku lakukan. Sebab, aku percaya dengan diriku,” kata baekhyun. Berkat perkataan idola berusia 31 tahun itu, amunisi kekuatan Nia seakan diisi ulang. Setiap kali takut mencoba hal baru atau ragu dengan studinya, ia mengulang perkataan Baekhyun di kepala, yang membuat dia tenang dan termotivasi untuk percaya pada kekuatan dirinya. Kalaupun gagal, ia puas karena sudah berani mencoba.
”Aku bilang ke orang-orang bahwa Baekhyun itu life savior-ku, aku merasa dia dikirim Tuhan buat menghiburku,” tambahnya. Menyukai K-pop membuat Nia bertemu teman baru, mengikuti komunitas, membentuk grup tari cover K-pop, dan membuat kegiatan amal. Pada 2018, ia dan beberapa temannya merayakan ulang tahun Baekhyun dengan menjual jurnal dan hasilnya disumbangkan ke yayasan kanker anak di Yogyakarta. ”Dengan K-pop, aku punya sarana melarikan diri sejenak dari hectic-nya kuliah dan menjaga kesehatan mentalku. Walau tampak ’receh’, aku bahagia di situ,” tambahnya. Selain K-pop, membuat rutinitas juga bisa jadi motivasi hidup. Head of Into The Light Indonesia Ida Ayu Prasasti memaparkan, kebahagiaan adalah saat dirinya mampu menerima kehidupan yang dijalani seutuhnya. Kebahagiaan juga berarti mampu memilih hal bermakna di kehidupan.
”Saya biasanya dalam kondisi bahagia saat merasa bisa bermanfaat bagi sekitar saya serta berdampak positif dari hal yang sedang dikerjakan,” katanya. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), anak muda berusia 10-19 tahun mengalami gangguan kesehatan jiwa secara global. Bunuh diri disebut penyebab kematian keempat bagi penduduk berusia 15-29 tahun. Adapun survei Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) yang rilis pada 2022 mencatat satu dari tiga remaja Indonesia (10-17 tahun) memiliki masalah kesehatan mental. Satu dari 20 remaja memiliki gangguan mental dalam 12 bulan terakhir. Untuk menjaga kesehatan jiwa, warga dianjurkan untuk menyeimbangkan kehidupan di dunia nyata dan maya, tidak menuntut diri agar sempurna, bersyukur pada hal-hal kecil, dan mendekatkan diri dengan alam. (Yoga)
Tags :
#KesehatanPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023