;

Peluang Manis LQ45 di Paruh Kedua

Peluang Manis LQ45 di Paruh Kedua

Sampai saat ini, indeks LQ45—indeks yang berisi 45 saham paling likuid di Bursa Efek Indonesia (BEI)—masih mencatatkan pertumbuhan 0,91% year-to-date (YtD). Catatan pertumbuhan itu terjadi saat IHSG melemah 2,76% sepanjang semester I/2023 ke level 6.661,88. Penguatan LQ45 pada paruh pertama 2023 didorong oleh apresiasi harga saham BBRI, ASII, BBCA, GOTO, TLKM, BBRI saat konstituen dari sektor energi merosot cukup tajam. Tekanan terhadap kinerja LQ45 pada semester I/2023 sempat datang dari koreksi harga saham ADRO, ITMG, dan EMTK. Namun, dengan kinerja indeks LQ45 yang secara umum masih relatif kuat pada paruh pertama 2023, sejumlah analis memprediksi Indeks LQ45 masih dapat mencatatkan pertumbuhan lebih baik pada semester II/2023. Mengawali paruh kedua 2023, kinerja LQ45 masih mungkin terstimulasi dari sektor konsumer dan perbankan. Kedua sektor ini memang diharapkan menjadi proksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diharapkan bisa mencapai 4,9%. Analis melihat harga-harga komoditas saat ini berangsur mengalami keseimbangan yang artinya terjadi normalisasi. Namun, hal ini belum cukup menopang kinerja LQ45 bisa melaju kencang. Ada satu faktor yang cukup menentukan kinerja LQ45 ke depan yaitu Pemilu 2024 yang persiapannya telah dimulai sebelumnya.

Sementara itu, sektor perbankan juga diharapkan tumbuh dengan baik seiring dengan potensi penurunan suku bunga acuan. Namun, perlu diingat bahwa kondisi pasar dapat berubah, dan kinerja sektoral dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor ekonomi dan keuangan yang kompleks. Selain konsumer dan perbankan, perlu kiranya mencermati sektor teknologi. Cukup menarik untuk memantau perkembangan sektor ini meski kerap menunjukkan kinerja yang fluktuatif di antara zona merah dan hijau. Sebagian besar perusahaan energi di LQ45 terkait dengan sektor minyak, gas, dan batu bara. Jika harga minyak, gas, atau batu bara mengalami peningkatan yang signifikan, perusahaan energi tersebut dapat mengalami kinerja yang lebih baik. Sebaliknya, jika harga komoditas energi mengalami penurunan, perusahaan-perusahaan tersebut mungkin menghadapi tekanan. Selain itu, sektor energi sangat sensitif terhadap kebijakan pemerintah terkait energi, seperti regulasi, subsidi, dan insentif, yang dapat memengaruhi prospek sektor energi. Kebijakan yang mendukung investasi dan pertumbuhan sektor energi dapat memberikan dorongan positif, sedangkan kebijakan yang menghambat atau perubahan kebijakan yang tidak terduga dapat berdampak negatif.

Tags :
#Opini
Download Aplikasi Labirin :