;

Pemijat yang Tertatih-tatih

Pemijat yang Tertatih-tatih

Riuh di Pasar Induk Kramatjati, Jaktim, tidak mengganggu Ki Jambrong mencari pasien yang akan menggunakan jasanya. Tas seberat 20 kg berisi perlengkapan pijatnya ia gendong ke mana kakinya melangkah. Sesekali ia beristirahat di tengah keramaian pasar, menunggu pasien dating menghampirinya. Lelaki berusia 68 tahun ini sudah berkelana menjadi pemijat sejak tahun 1968 dengan berkeliling Indonesia untuk mencari pengalaman. Pada tahun 1972 ia berkeliling pasar-pasar di Jakarta. Penghasilannya dari memijat ia tabung untuk membangun rumah hingga membeli sebidang tanah untuk ditanami berbagai macam tumbuhan produktif.

Kini kebiasaannya menabung sudah sulit ia lakukan. Semenjak diberlakukannya serangkaian aturan saat pandemi Covid-19, penghasilannya belum juga membaik. Pada medio 2000-an, Ki Jambrong bisa mendapat 10 pasien setiap hari dengan bayaran rata-rata Rp 50.000 per pasien. Kini, dalam seminggu terakhir ia baru mendapatkan lima pasien. ”Bersyukur masih bisa makan, yang sulit bukan hanya saya, semuanya juga sulit.” Tukang pijat di Pasar Kramatjati saat ini ada 50 orang. Selain berkeliling, ada juga pemijat yang menunggu pasien datang menghampiri ke lapak miliknya di Gedung B.

Yoyo (62) adalah satu dari puluhan tukang pijat yang ada di Gedung B, ia memijat sejak enam bulan yang lalu setelah dirinya tidak lagi menjadi sopir taksi. Kemampuan memijatnya merupakan warisan dari nenek buyutnya. Para pemijat di Pasar Induk Kramatjati tertatih-tatih di tengah kondisi ekonomi saat ini. Ancaman resesi global mungkin tidak terlalu mereka pikirkan. Sebab, bagi mereka bisa mendapatkan pasien untuk menyambung hidup saja sudah cukup. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :