;

Transaksi Berjalan Berpotensi Defisit

Transaksi Berjalan Berpotensi Defisit

Moncernya kinerja ekspor dan neraca perdagangan secara umum, belum tentu membuat transaksi berjalan tahun ini kembali mencetak surplus. Transaksi berjalan bisa jadi berbalik defisit, meski di level yang rendah. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, surplus neraca perdagangan periode Januari-Mei 2023 mencapai US$ 16,48 miliar. Walaupun, angka surplusnya menyusut dibanding periode yang sama tahun lalu mencapai US$ 19,80 miliar. Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengungkapkan, bank sentral memperkirakan neraca transaksi berjalan 2023 berpotensi surplus 0,5% terhadap produk domestik bruto (PDB). Kalaupun berbalik defisit, hanya sekitar 0,3% dari PDB. Proyeksi ini membaik dibanding rentang perkiraan yang Gubernur BI Perry Warjiyo sampaikan bulan lalu. Saat itu, Perry memperkirakan, neraca transaksi berjalan tahun ini surplus 0,4% hingga defisit 0,4% terhadap PDB. Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman memproyeksikan, defisit neraca transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) sebesar 0,65% terhadap PDB. Ini sejalan dengan kinerja neraca perdagangan yang mungkin berbalik defisit lebih cepat dari perkiraan sebelumnya. Kinerja ekspor diperkirakan akan terus melemah, seiring penurunan harga komoditas dan pelemahan permintaan global. Sebagian besar bank sentral di dunia juga menerapkan suku bunga kebijakan tinggi untuk waktu yang lebih lama, sehingga membebani kinerja sektor riil. Dari sisi impor, angkanya akan terus mendaki. Tapi, ini tak melulu pertanda buruk lantaran kenaikan impor mengindikasikan permintaan dalam negeri membaik.

Tags :
#Nasional
Download Aplikasi Labirin :