;

Lonjakan Jerat Utang lewat Paylater

Lonjakan Jerat Utang lewat Paylater

Sejak masa pandemi Covid-19, banyak kelompok masyarakat Indonesia—termasuk anak muda—terjebak utang karena beragam faktor. Beberapa di antaranya karena pemutusan hubungan kerja (PHK), kenaikan harga bahan pokok, krisis global, dan kebutuhan aktivitas daring yang makin masif karena kerja dan pembelajaran jarak jauh. Pada mulanya, utang hanyalah bentuk relasi sosial sederhana yang berkaitan dengan jasa, balas budi, barter, dan aktivitas sosial-ekonomi kemanusiaan sehari-hari. Sebagaimana ulasan antropolog ekonomi David Graeber, dengan bergulirnya sejarah dan semakin kompleksnya kehidupan masyarakat, utang pun berkembang melampaui urusan ekonomi, finansial, negara, dan pasar belaka. Seiring dengan berkembangnya sistem keuangan, jenis-jenis utang pun menjadi semakin variatif. Ada yang berwujud barang, fasilitas, uang (dengan sistem bunga ataupun tidak), kredit, hingga yang terbaru adalah jasa “beli kini, bayar nanti” (buy now, pay later atau BNPL) dengan akses yang mudah dan menggiurkan bagi konsumen muda. Melalui tulisan ini, saya ingin menelusuri bagaimana tren baru perutangan ini menjerat mereka—termasuk bagaimana utang menjadi candu, melanggengkan kesenjangan, dan menimbulkan dampak psikologis. (Yetede)

Tags :
#Utang
Download Aplikasi Labirin :