;

GELIAT EKOWISATA, Kulari ke Hutan Kota di Palangkaraya

Ekonomi Yoga 02 Jun 2023 Kompas (H)
GELIAT EKOWISATA,
Kulari ke Hutan Kota
di Palangkaraya

Kristana Parinters Makur (30) melepas alas kakinya dan merasakan pasir basah hutan kerangas di Kahui, Palangkaraya, Kaliteng. Penatnya sirna bersama hilangnya terik matahari di balik pepohonan. Nando, sapaan akrabnya duduk di bawah pohon beringin tak jauh dari Sungai Tahai yang airnya berwarna hitam karena gambut. Sekitar 50 meter dari sungai berdiri pondok-pondok dengan atap segitiga menutupi badan pondok. Beberapa orang terlelap di dalamnya, sebagian mengunyah camilan. Anak-anak kecil berlarian di depan pondok, mengejar sinar matahari yang muncul dari balik ranting-ranting. ”Saya, dari kampung, jadi apa-apa ingin kembali ke hutan. Biasanya kembali ke hutan itu entah kenapa hati jadi tenang,” kata Nando, Rabu (31/5). Kahui tidak menawarkan wisata modern seperti tempat wisata pada umumnya. Kahui hanya menawarkan ketenangan alam. Tak ada yang diubah dari bentuk Kahui sebelum menjadi seperti sekarang. Pohon-pohon berumur puluhan tahun, sungai alami, tanah berpasir, dan rasa nyaman sudah hadir sejak dulu. Pemilik hanya menambahkan bangunan nonpermanen untuk memoles Kahui.

Kahui atau Kalimantan Hutan Itah (Kalimantan Hutan Kita) dikenal sebagai tempat ekowisata sejak 2017 lalu. Meski pernah dihantam pandemi Covid-19, tempat itu tetap hidup. Ada enam orang yang bekerja di tempat itu. Tidak hanya melayani pengunjung, mereka juga ikut mengedukasi pengunjung. Salah satunya soal sampah. Para ”penjaga” Kahui yang merupakan mahasiswa itu tak segan-segan menegur pengunjung yang membuang sampah tidak pada tempatnya. Bahkan, pejabat pun pernah ditegur karena membawa sepeda motor hingga ke pinggir sungai, padahal tempat parkir sudah disiapkan. Anak-anak yang kerja di tempat itu merupakan warga sekitar yang sebelum Kahui hadir hanya bekerja sebagai penggali pasir dengan upah Rp 5.000 sekali angkut pasir, kini bisa kuliah, punya gaji bulanan, bahkan mendapatkan bonus tahunan. Kahui menjadi kawasan ekowisata dengan luas 10 hektar atau 10 kali ukuran lapangan sepak bola yang mulai dikelola sejak 2016, tetapi baru diresmikan pada 2017. Tempat itu diminati pengunjung yang ingin berkemah atau seperti Nando, lari dari kepenatan.

 Kahui masuk dalam kategori kelompok tani hutan (KTH). Pengelola Kahui, Lilik Sugiarti, mengungkapkan, sejak 2017 sampai saat ini Kahui bertransformasi tak hanya sekadar sebagai tempat wisata. Kahui juga dipadati peneliti dan menjadi tempat bagi mahasiswa di Palangkaraya yang ingin belajar soal hutan kerangas, tumbuhan, dan keanekaragaman hayati lainnya. Konsep ekowisata ternyata masih menjadi andalan di Palangkaraya. Setelah Kahui, di kawasan yang sama terdapat dua tempat ekowisata lain yang menawarkan konsep serupa meski tak sama. Ada Danum Bahandang dan Lewu Bue. Pengunjung jadi punya banyak pilihan tempat untuk dikunjungi dan berbagai pilihan ekowisata. Danum Bahandang menyajikan wisata air hitam yang memukau. Orang-orang datang untuk menikmati makanan di pinggir sungai atau sekadar berenang. Ekowisata tak sekadar menjadi tumpuan atau sumber ekonomi baru, tetapi juga tempat ”lari” dari kesibukan. Mereka memilih hutan sebagai tempat untuk menepi dari keramaian yang tak diinginkan. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :