;

Gerak Cepat Konversi Energi Hijau

Gerak Cepat Konversi Energi Hijau

Upaya untuk melakukan konversi sumber energi dari yang bahan fosil menjadi ramah lingkungan terus dilakukan oleh banyak negara di dunia. Setelah sebelumnya sempat surut akibat serangan virus Corona yang sedemikian masif, saat ini negara-negara di Eropa kembali menggencarkan kampanye pemanfaatan energi hijau. Membahas optimalisasi pemanfaatan sumber energi bersih tentu saja tidak dapat dilepaskan dari kesuksesan China dalam mengonversi energi. China yang tercatat sebagai negara dengan populasi penduduk terbesar di dunia ini telah melakukan konversi energi sejak 2006. Dimulai dengan mengalihkan penggunaan sumber energi batu bara ke gas. Pada waktu itu, China membuka keran impor gas bumi yang didistribusikan melalui pipa dan gas alam cair (liquified natural gas/LNG) dari negara produsen gas di seluruh dunia. Pemerintah China dalam cetak biru telah menetapkan proses konversi energi dari batu bara ke gas selesai pada 2030. Adapun, konversi dari minyak mentah ke gas akan selesai pada 2040. Rupanya, tren peningkatan permintaan gas alam China ini sudah diproyeksikan International Energy Agency (IEA). Dalam laporan IEA disebutkan bahwa tren permintaan gas alam oleh China diproyeksikan mencapai 376 miliar meter kubik pada 2023. Tren ini akan mendorong China berada di posisi teratas sebagai importir gas di dunia, disusul oleh Jepang dan Korea Selatan. Pemerintah Indonesia sendiri menetapkan kebijakan peningkatan porsi gas dalam bauran energi secara berkala. Porsi gas dalam bauran energi ditargetkan mencapai 22% pada 2025, dan meningkat menjadi 24% pada 2050. Kebijakan ini ditopang dengan kandungan gas alam yang dimiliki Indonesia yang sedemikian besar.

Tags :
#Opini
Download Aplikasi Labirin :