;

Ruang Penurunan Bunga Acuan Masih Sempit

Ruang Penurunan Bunga Acuan Masih Sempit

Arah kebijakan bunga acuan Bank Indonesia alias BI 7- Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) belum terlalu terang. Penyebabnya, kondisi ekonomi global yang masih diliputi ketidakpastian, meski salah satu indikator penentu bunga acuan, yakni inflasi terus melandai. Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mei 2023, kemarin, BI kembali menahan suku bunga acuannya di level 5,75%. Artinya, otoritas moneter telah menahan bunga di level ini selama empat bulan terakhir sejak Januari 2023. Pada Januari lalu, BI terakhir kali mengerek bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps). Meski demikian, Gubernur BI Perry Warjiyo mengaku, saat ini pihaknya masih memantau perkembangan sejumlah indikator. "Kami harus memantau pergerakan yang terjadi. Melakukan pantauan, asesmen setiap bulan dan bulan berikutnya untuk menentukan keputusan," tutur dia, Kamis (25/5). Perry menjelaskan, setidaknya ada tiga hal yang menjadi pertimbangan BI terkait arah suku bunga kebijakan ke depan. Pertama, tingkat inflasi inti dan inflasi umum.
Kedua, kinerja pertumbuhan ekonomi. Perry yakin, pertumbuhan ekonomi dalam negeri pada tahun 2023 akan berada di kisaran 4,5% hingga 5,3% yoy. Namun, masih ada pekerjaan rumah yang harus dibenahi, yaitu investasi bangunan. Ketiga, kondisi pasar keuangan global. Terlebih, ketidakpastian pasar keuangan berlanjut sejalan dengan risiko gagal bayar utang Amerika Serikat (AS). Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman juga melihat, meski inflasi menurun, ketidakpastian di pasar keuangan global meningkat. Hal ini memberikan tekanan terhadap stabilitas nilai tukar rupiah dan berdampak terhadap imported inflation. Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual melihat, pelonggaran kebijakan moneter BI tetap ada meski The Fed belum akan memangkas suku bunga acuannya. Namun pelonggaran tersebut berupa kebijakan makroprudensial, terutama giro wajib minimum (GWM) yang saat ini cukup ketat.

Tags :
#Opini #Makro
Download Aplikasi Labirin :