Jatuh dan Segera Bangun Menjadi Orang Jakarta
Kegilaan jakarta tak membuat para pendatang dari berbagai daerah ciut nyali untuk mengadu nasib. Mereka terus mengalir, bertarung memperebutkan pekerjaan dan sepenggal ruang sempit untuk tempat tinggal. Mereka lantas dipaksa beradaptasi dengan hiruk pikuk dan segala kegilaan di Jakarta demi melebur menjadi bagian dari kehidupan kota ini. Satria Phonna (25) datang ke Jakarta tahun 2016. ketika bekerja di perusahaan penyelenggara acara di Jakarta tahun 2018, ia terkaget-kaget dengan kultur orang-orang di lingkungan kerjanya yang bicara tanpa tedeng aling-aling. Mereka kerap menghantam ide yang dilontarkan Satria. ”Katanya (ide saya) sudah lewat trennya. Ketinggalan zaman. Makanya,tinggal di Jakarta, jangan di daerah,” kata Satria menirukan kalimat tajam rekan-rekannya. Ia mencoba menyesuaikan diri dengan kultur kerja seperti itu. ”Aku gali informasi dari internet, mengamati gambar-gambar kekinian,” katanya. Ia mulai memberanikan diri urun rembuk pertengahan tahun 2019. Dari situ, traumanya atas penolakan perlahan pudar, capnya, Jumat (5/5). Satria yang kini bekerja sebagai pegawai teknnologi informasi BUMN mengatakan, beragam pengalaman baru dan adaptasi yang harus ia lalui untuk bertahan di Jakarta telah mengubah dirinya dalam pengertian positif. ”Akhirnya, aku bisa nyaman hidup di Jakarta,” ucapnya.
Ismiyati Handayani (23) yang baru empat bulan bekerja di Soto Kudus Taman Jajan Bintaro, Tangsel, Banten. Lulusan SMK dengan kompetensi keahlian akuntasi, perempuan asal Kebumen, Jateng, itu sempat tergagap-gagap membiasakan diri dengan teknologi pembayaran nontunai. ”Awalnya enggak bisa, tetapi lama-lama terbiasa. Saya hitung, lalu pembeli scan (memindai) dan hasilnya difoto,” katanya. Adaptasi terhadap lingkungan Jakarta dirasakan sampai ke hal-hal kecil. Ismi, misalnya, sejak tinggal di Jakarta tidak bisa tidur tanpa kipas angin untuk mengusir gerah. Cerita tentang kerasnya hidup di Jakarta tinggallah cerita. Setiap tahun, pendatang tetap berduyun-duyun masuk ke Jakarta dan kota-kota di sekitarnya. Disdukcapil DKI Jakarta memprediksi, seusai Lebaran 2023 ada 40.000 pendatang baru yang mengalir ke Jakarta. Tahun lalu hanya mencapai 27.000 orang. Seperti para pendatang sebelumnya, mereka harus bersaing dan bertarung untuk hidup diJakarta. Berkaca pada pengalaman para pendatang baru, kekagetan menghadapi kehidupan di Jakarta, menurut Sosiolog UI, Ida Ruwaida Noor, biasanya hanya terjadi sesaat, di awal kedatangan mereka. Karena motivasi pindah adalah mencari peluang yang lebih baik, pendatang pun dituntut beradaptasi. (Yoga)
Tags :
#Isu LokalPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023