Berharap Stabilitas Rupiah dari Dedolarisasi
Dedolarisasi atau proses mengganti dollar Amerika Serikat (AS) sebagai mata uang untuk perdagangan dan investasi lintas negara tengah diupayakan oleh sejumlah negara di dunia. Langkah ini ditempuh guna mengurangi ketergantungan pada mata uang utama tersebut.
Dedolarisasi baru-baru ini tengah dibicarakan organisasi dagang BRICS. Aliansi yang beranggotakan Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan tersebut mengutarakan niatnya untuk mengurangi transaksi yang menggunakan dollar AS. Selain untuk menekan biaya, juga untuk mengurangi ketergantungan dengan mata uang tersebut.
Salah satu langkah yang ditempuh dalah melalui kerja sama penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan, investasi dan sistem pembayaran atau
local currency transaction
(LCT) yang sebelumnya dikenal sebagai
local currency settlement
(LCS) dengan sejumlah negara. Teranyar, Indonesia bakal meneken kerja sama LCT dengan Korea Selatan bulan depan. "Sebentar lagi, pada awal bulan Mei 2023 kami akan menandatangani kerja sama LCS dengan Korea Selatan," kata Gubernur BI Perry Warjiyo belum lama ini.
Sejauh ini, transaksi penggunaan LCT Indonesia dengan keempat negara mitra itu meningkat cukup signifikan. Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengungkapkan, dalam dua bulan pertama tahun 2023, total nilai transaksi LCT sebesar ekuivalen US$ 957 juta. Artinya, rerata penggunaan LCT per bulan pada dua bulan pertama tahun ini sekitar US$ 450 juta.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai, upaya dedolarisasi yang dilakukan Indonesia dan sejumlah negara maju lainnya bakal berdampak positif. Terutama terhadap stabilitas rupiah.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023