Tradisi Mudik ala Wong Cilik
Wong cilik yang mendiami sudut-sudut kota juga merayakan tradisi mudik Lebaran. Uang yang diakumulasi selama setahun dengan membanting tulang dapat habis dalam seminggu. Sebab, berkumpul bersama keluarga, sungkem ke orangtua, hingga mengecap makanan di kampung adalah hal yang tak ternilai harganya. Tamsari (47) kuli angkut Pasar Kramatjati, Jaktim, Sabtu (8/4) menghitung uang hasil memanggul selama 4 jam sejak pukul 12.00. Ia memperkirakan, setiap kuli angkut dalam kelompoknya dapat mengantongi Rp 50.000. Jumlah itu mungkin bertambah karena mereka bekerja hingga tengah malam. ”Sudah tinggal menghitung hari untuk mudik. Sekarang saya fokus mengumpulkan uang untuk membeli oleh-oleh dan bekal di perjalanan,” kata dia yang akan mudik ke Batang, Jateng.
Rencananya ayah dua anak ini akan mudik bersama 50-an kuli angkut Kramatjati asal Batang lainnya pada Rabu (19/4) dengan menyewa bus pariwisata. Setiap orang dikenai biaya Rp 200.000 sebagai ongkos. Tamsari membawa uang sedikitnya Rp 5 juta yang ditabung jauh-jauh hari, di luar ongkos bus, ongkos angkutan umum lain menuju rumah, bekal di perjalanan, dan pembelian oleh-oleh. Minimal ia harus mengantongi Rp 500.000 untuk itu semua. Ongkos ini tidak begitu tinggi mengingat anak dan istrinya menetap di kampung. ”Biasanya saya bawa buah-buahan ke rumah. Beli jeruk santang sekardus dan lengkeng. Nanti buat dibagi-bagi saudara dan tetangga,” ucap Tamsari.
Leni Suryani (39), PRT yang sudah merantau 10 tahun di Jakarta, juga menjadikan mudik ke Desa Rawalo, Banyumas, Jateng, sebagai agenda tahunannya. Hari-hari ini pikirannya sudah di kampung, padahal ia baru diizinkan cuti oleh majikannya pada Selasa (18/4), saat puncak arus mudik. Tahun ini, Leni bersama dua saudaranya yang juga bekerja di Jakarta patungan untuk menyewa mobil. Mereka berniat berangkat ke Banyumas sebelum maghrib untuk menghindari kemacetan setelah buka puasa. ”Kalau tidak mudik tidak afdal. Lebaran hanya setahun sekali, punya tidak punya duit harus pulang. Momen ini yang ditunggu-tunggu setelah Ramadhan. Jadi biarkan saja THR habis, nanti balik lagi, cari (uang) lagi,” cerita Leni penuh semangat. Bagi Leni, kegiatan shalat Id, sungkem ke orangtua, dan silaturahmi bersama orang satu kampung adalah momen yang sangat berharga. Oleh karena itu, mudik menjadi tradisi sekaligus bentuk penghormatan bagi mereka yang sudah merawatnya dari lahir. (Yoga)
Tags :
#Isu LokalPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023