Bagai Laron Menuju Cahaya Rezeki
Lebaran di ambang pintu, pekerja infal pun berduyun-duyun menuju perkotaan. Mereka datang jauh-jauh dari kampung untuk menjemput upah menggiurkan yang sudah jauh-jauh mereka incar. Semua dilakukan demi membahagiakan keluarga meski tak bisa Lebaran bersama. Yanti Rosmiati (41) termangu saat mendapati rumah majikannya di Selong, Jakarta. Pekerja infal itu bekerja mulai Kamis (13/4). ”Baru lihat rumah segede ini. Sampai heran,” ucapnya seraya mengamati bangunan megah bertingkat itu. Maklum saja, ia berasal dari Jasinga, Bogor, Jabar, yang berjarak 85 km. “Untung, semua lancar. Teman yang ngajarin saya baik-baik. Enggak ada yang galak,” katanya diiringi tawa. Yanti mengutarakan pertimbangannya soal pekerja infal sebagai pilihan terbaik. ”Lihat di Youtube. Kerjanya enggak beda sama ART (pekerja rumah tangga),tapi upah pekerja infal pas Lebaran lebih besar,” ujarnya. Ia dibayar Rp 2 juta untuk bekerja selama 10 hari. Pada masa normal, jumlah itu sama dengan gaji PRT selama sebulan. ”Malah, kalau di Jasinga, dapatnya paling hanya Rp 600.000 per bulan. Saya jadi pekerja infal lewat yayasan,” ucapnya. Baru Lebaran ini Yanti mencari pengalaman sebagai pekerja infal.
Annah Andayani (34) duduk bersila sambil menatap ponselnya, mendengarkan pekerja-pekerja infal lain ngobrol di gedung PT Dani Mandiri, Jakarta. ”Sehari-hari, sambil menunggu, saya dan teman-teman diskusi pekerjaan, bersih-bersih, dan belajar bahasa Inggris lagi,” kata Annah dari Pekalongan, Jateng. Sudah seminggu ia berada di perusahaan penyalur bidang jasa pelatihan dan penempatan tenaga kerja domestik di Jabodetabek itu. Berbekal keterampilan sebagai pengasuh bayi, ia harap-harap cemas menunggu. ”Saya ikut pekerja infal karena gajinya dobel,” lanjutnya. Pada hari biasa, Annah yang tinggal di Cileungsi, Bogor, bisa mendapatkan Rp 150.000-Rp 200.000 per hari. Gaji ini bisa naik menjadi Rp 350.000-Rp 400.000 per hari selama Ramadhan. Pemasukan ini menambah pendapatan suaminya yang bekerja sebagai tukang di perusahaan mebel. Ia baru menyelesaikan pekerjaan dengan majikan pada Agustus 2022, setelah bekerja sejak 2019. Ia bertekad menjadi pekerja infal dulu untuk mencari peluang sebagai pekerja permanen.
Anggota staf Administrasi PT Dani Mandiri, Aprilia, mengatakan, permintaan pekerja infal biasanya muncul sebulan sebelum puasa. Namun, karena masih pandemi, permintaan tahun ini kebanyakan mulai saat puasa. Permintaan pekerja infal pun belum pulih seperti sebelum pandemi, ketika mereka bisa mengirim lebih dari 100 pekerja. ”Per 12 April, yang sudah berangkat kerja ada 15-20 orang, kebanyakan ART,” ujar Lia, sapaannya. Saat ini, di PT Dani Mandiri ada 30 pekerja infal yang menunggu. Kebanyakan pekerja berasal dari Jabar, Jateng, dan Lampung. ”Kami biasanya punya orang yang merekrut di daerah, jadi tahu orangnya seperti apa. Untuk pekerja infal kami cari yang sudah punya pengalaman karena lebih banyak pekerjaan dibandingkan hari biasa,” kata Lia. Perusahaan itu menyedia-kanpaket sebulan dengan bayaran sekitar Rp 4 juta dan harian dengan bayaran Rp 250.000-Rp 300.000. Mereka menyediakan berbagai pekerja infal, seperti PRT, pengasuh anak, dan perawat lansia. (Yoga)
Tags :
#Isu LokalPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023