Musim Semi Pembuat Konten
Sekelompok anak muda berlalu lalang memasuki sebuah studio mini di Menara Kompas, Jakarta, Rabu (5/4) sore. Sinergi media sosial dan ragam bisnis, termasuk media massa, mau tidak mau harus dilakukan demi mengukuhkan eksistensi. ”Ini berkaitan dengan Gerai Kompas, juga memperkenalkan Kompas.id dan nge-branding lagi harian Kompas. Penting saat ini untuk berstrategi memanfaatkan media sosial. Tidak hanya ini, ada juga konten berjudul AADK, yaitu Ada Apa di Koran Hari Ini? untuk mengajak kembali membaca koran juga,” ujar Wakil Manajer Media Sosial Harian Kompas Priyanto di Jakarta, Rabu (5/4/2023).Keberadaan konten yang makin menyuburkan lahan para pembuat konten sebagai sarana pemasaran ini memang tak bisa dimungkiri. Social Media Trends 2023 yang dirilis Hootsuite menunjukkan, penggunaan pembuat konten mulai dilirik oleh 42 % perusahaan dengan karyawan di atas 1.000 orang. Namun, bisnis kecil pun memanfaatkan jasa pembuat konten atau melahirkan pembuat konten baru sekaligus bisnis baru.
Analisa Widyaningrum (34), seorang psikolog. Semula, ia merasa tidak percaya diri terjun membuat konten di medsos, tetapi kebutuhan untuk mempromosikan bisnis yang tengah dibangunnya membuatnya berani mencoba. ”Enggak pede bikin konten tuh pas 2015. Tapi gara-gara bikin APDC Indonesia saat itu, marketing tools yang gampang bagiku dengan biaya murah, ya, lewat Instagram. Mulailah di situ, bikin konten APDC juga untukku. Itu semua masih sendiri karena belum tim. Ternyata malah yang lebih banyak engagement-nya yang personal, yang akun Analisa,” tutur Ana. Sejalan dengan meningkanya pengikut di akun @analisa.widyaningrum dan personal branding yang dibangunnya, bisnisnya, yaitu APDC Indonesia, juga mengikuti. ”Yang tadinya mau mengedukasi malah jadi profesi juga,” ujar perempuan yang semula pengikutnya kurang dari 2.000, tapi kini melesat hingga lewat 500.000 di Instagram dan lebih dari 600.000 di Youtube.
Ghaniy Pradita (22) terpantik masuk sebagai pembuat konten ketika pandemi. Kondisi pembatasan sosial justru memunculkan ide menjadikan proses penyelesaian skripsi sebagai mahasiswa Teknik Pengairan, Universitas Brawijaya, sebagai konten. Tak disangka, konten yang saat itu diunggah melalui akun @mahasiswamalas di Tiktok memperoleh sambutan baik. Dari tanpa pengikut, dua bulan berjalan, pengikutnya melonjak hingga 20.000 dan terus naik sampai kini stabil di angka 80.000-an. Setelah lulus kuliah, akunnya berubah menjadi @karyawanmalas. Tak ditampiknya, profesi menjadi pembuat konten cukup menjanjikan. Saat masih kuliah saja, ia kerap diajak bekerja sama untuk mempromosikan produk. ”Untuk satu video itu bisa Rp 700.000 sampai Rp 1 juta,” ujarnya. Meneropong masa depan, pembuatan konten medsos tak bisa ditolak, tapi, jangan membuat konten hanya untuk mengejar cuan. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023