RI-India Gulirkan Perjanjian Tarif Preferensial
Indonesia dan India menargetkan nilai perdagangan nonmigas kedua negara dapat mencapai 50 miliar USD pada 2025. Target tersebut akan direalisasikan melalui perjanjian tarif preferensial serta kolaborasi pelaku usaha dan industri kedua negara. Target perdagangan kedua negara itu disepakati Presiden RI Jokowi dan PM India Narendra Modi pada 2019. Hingga 2022, total perdagangan nonmigas RI-India telah mencapai 32,7 miliar USD atau tumbuh 55 % secara tahunan. Mendag Zulkifli Hasan, Selasa (14/3) mengatakan, pihaknya akan berupaya merealisasikan target itu dengan menjalin hubungan yang intensif bersama pemerintah dan pelaku usaha India.
Dengan Pemerintah India, Indonesia tengah berupaya merealisasikan perjanjian tarif preferensial (PTA). ”PTA tersebut akan mengarah pada perdagangan barang yang berfokus pada isu kepentingan dua negara,” ujarnya di sela-sela KTT Kemitraan Konfederasi Industri India (Confederation of Indian Industry/CII Partnership Summit) 2023 di New Delhi, India. Dalam pertemuan dengan Mendag dan Industri India Piyush Goyal, Selasa malam, Zulkifli juga membahas PTA. Dirjen Perundingan Perdagangan Internasional Kemendag Djatmiko Bris Witjaksono menambahkan, perundingan kerja sama perdagangan bilateral RI-India sudah dimulai sejak 2020, namun, lantaran pandemi Covid-19, negosiasi PTA itu tertunda selama dua tahun. Tahun ini,RI-India kembali memulai negosiasi PTA secara lebih intensif. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023