PEREKONOMIAN DAERAH : MENGEREK PERFORMA SAWIT SUMUT
Perkebunan sawit memiliki peran sentral dalam menjaga deru mesin perekonomian Provinsi Sumatra Utara. Anjloknya harga minyak sawit mentah perlu solusi strategis untuk menjaga performa ekspor wilayah ini.
Pasalnya, ekspor minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) wilayah ini memiliki bauran lebih dari 40%, yang tecermin pada golongan lemak dan minyak hewan/nabati.Data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatra Utara menunjukkan ekspor golongan tersebut pada Januari 2023 sebesar US$328,41 juta. Realisasi melemah, baik secara tahunan (year-on-year/YoY) maupun secara bulanan (month-to-month/MtM).Jika dilihat secara YoY, ekspor golongan itu melemah 8,92%, bahkan merosot hingga 32,15% secara MtM. Pengamat Ekonomi Universitas Sumatera Utara Wahyu Ario Pratomo mengungkapkan bahwa minyak sawit mentah, karet, dan kopi merupakan 3 komoditas yang menopang kinerja ekspor wilayah itu.
Menurutnya, kelapa sawit memiliki peran sentral dalam menopang perekonomian Sumatra Utara (Sumut). Dia menilai baik dari hulu hingga ke hilir, kerterlibatan pihak-pihak di balik bisnis kelapa sawit membuat komoditas ini paling banyak diekspor.
Wahyu menilai terjerambabnya harga CPO juga merupakan imbas dari melemahnya harga minyak dunia ke level US$85 per barel pada tahun ini, dari posisi US$120 per barel pada 2022. Pasalnya, CPO merupakan salah bahan baku guna menghasilkan biodiesel.
“Bagi Sumut, tentunya penurunan ekspor CPO berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi, karena 40% ekspor Sumut bersumber dari CPO,” jelasnya.Apalagi, jika dilihat dari performa struktur perekonomian wilayah ini, sektor pertanian dan perkebunan memiliki andil yang cukup besar. Pada 2022, misalnya perekonomian Sumut yang mencapai 5,17% ditopang oleh kedua sektor itu dengan bauran mencapai 23,0%.
Gunawan Benjamin, Pengamat Ekonomi yang juga merupakan Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Managemen (STIM) Sukma Medan, menilai bahwa tren penurunan harga CPO secara global dipengaruhi oleh kebijakan China yang menargetkan pertumbuhan ekonomi di angka 5% pada 2023.
Kepala Biro Perekonomian Sekretariat Daerah Provinsi (Setdaprov) Sumut Naslindo Sirait mengungkapkan, naik-turunnya harga sudah pasti berkaitan dengan jumlah permintaan dan pernawaran.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023