;

Nyawa Kedua Nasabah

Ekonomi Yoga 07 Feb 2023 Kompas
Nyawa Kedua Nasabah

Belakangan, kembali menyeruak kasus pembobolan rekening nasabah dengan mencuri data pribadi nasabah, baik secara fisik maupun melalui aplikasi pencuri data lewat telepon seluler. Nasabah perlu terus meningkatkan kewaspadaan untuk menjaga data pribadi yang sama pentingnya ibarat ”nyawa kedua”. Kasus yang mencuri perhatian publik adalah pencurian dana nasabah BCA senilai Rp 320 juta di Surabaya, Jatim, beberapa waktu lalu. Kasus ini menjadi viral lantaran pelaku melibatkan pengayuh becak untuk mengelabui petugas bank saat menguras isi rekening korban. Agar bisa menguras isi rekening korban dengan cara menarik tunai di kantor cabang, pelaku mencuri kartu ATM, buku tabungan, dan KTP korban di kamarnya saat ditinggal untuk shalat Jumat. Demi memuluskan  rencana mengelabui petugas bank dalam pengecekan identitas, pelaku meminta seorang pengayuh becak karena memiliki perawakan usia dan wajah mirip korban. Petugas tidak curiga lantaran semua prosedur pemeriksaan bisa dilalui si pengayuh becak. Tak lama ia pun keluar dari bank dengan membawa dua tas kresek berisi Rp 320 juta. Dalam aksinya ini, si pengayuh becak mendapat upah Rp 5 juta dari dalang kejahatan ini.

Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja sampai harus berkomentar memberi nasihat nasabah untuk selalu menjaga data pribadi. Ia mengibaratkan KTP, kartu ATM, buku tabungan, dan nomor PIN ibarat  nyawa kedua” yang harus dijaga sebaik-baiknya. Selain mencuri data pribadi secara fisik, belakangan  tengah marak berbagai upaya mencuri data pribadi dari ponsel nasabah. Modusnya adalah tersebarnya pesan di aplikasi pengiriman pesan berupa permintaan untuk mengaktifkan aplikasi undangan pernikahan. Pelaku berpura-pura sebagai pengirim undangan dengan mengirimkan file ekstensi APK, disertai foto undangan pernikahan ke calon korban. Sasaran diminta mengklik dan mengaktifkan aplikasi tersebut. Selanjutnya, korban harus menyetujui hak akses (permission) terhadap beberapa aplikasi sehingga dari sana data pribadi yang bersifat rahasia dalam ponsel bisa dicuri pelaku. Ketua Indonesia Cyber Security Forum Ardi Sutedja mengatakan, kriminalitas dengan modus pencurian data pribadi sejatinya bukan kasus baru karena terus berulang di masyarakat. Ini lantaran masih minimnya pemahaman mengenai pentingnya menjaga data pribadi perbankan nasabah. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :