MENGENDALIKAN RITME INFLASI
Realisasi inflasi kembali melanjutkan tren penurunan seiring dengan manuver otoritas fiskal dan moneter dalam mengekang laju indeks harga konsumen (IHK). Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Rabu (1/2), inflasi Januari 2023 tercatat 5,28% (year-on-year/YoY), lebih rendah ketimbang Desember 2022 yang mencapai 5,51% (YoY). Akan tetapi, ‘perang’ melawan inflasi belumlah usai. Kekuatan jangkar dari Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia (BI) dalam mengikat gerak inflasi bakal kembali diuji menyusul rentetan tekanan yang berisiko menggoyahkan stabilitas harga barang. International Monetary Fund (IMF) dalam World Economic Outlook January 2023 bahkan mengingatkan adanya risiko melonjaknya inflasi menyusul dibukanya kembali ekonomi China. Menurut IMF, penghapusan Zero Covid akan mengatrol harga komoditas terutama minyak dan gas, serta barang konsumsi. Peringatan senada juga disampaikan Kepala BPS Margo Yuwono, yang memandang laju inflasi pada Januari 2023 masih cenderung tinggi, meski melandai dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Dia menjelaskan, ada beberapa faktor yang berisiko menjadi penekan gerak IHK. Pertama, nilai tukar rupiah yang memengaruhi harga barang-barang impor sehingga memicu inflasi atas barang impor. Kedua, dinamika iklim dan cuaca, serta manajemen stok dan distribusi yang berkaitan erat dengan stabilitas harga komoditas pangan. Ketiga, kebijakan menaikkan harga komoditas yang diatur pemerintah perlu dilakukan secara cermat karena akan berdampak pada inflasi umum.
Tags :
#InflasiPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023