'JAMU MANIS’ EKONOMI
Untuk ketiga kalinya dalam sepekan terakhir, Bank Indonesia (BI) melemparkan kode untuk tak lagi ‘garang’ dalam mengutak-atik suku bunga acuan BI-7 Day Reverse Repo Rate (BI7DRR). Jika benar dieksekusi, hal tersebut bakal menjadi katalis positif akselerasi ekonomi pada tahun ini. Bukannya tanpa alasan bank sentral memberikan sinyal pelandaian suku bunga acuan setelah dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) 6 bulan terakhir, suku bunga terus dikatrol hingga 225 basis points (bps). Musababnya, inflasi yang menjadi faktor utama penggerak suku bunga relatif terkendali. Pada 2022, inflasi berakhir sebesar 5,51%, dan pada Januari 2023 konsensus ekonom Bloomberg menghitung rata-rata inflasi 5,39%. Nyanyian ‘landai’ dari Gubernur BI Perry Warjiyo ini menandakan perubahan arah kebijakan bank sentral dari yang sebelumnya berfokus pada penanganan inflasi menjadi pro pertumbuhan ekonomi. Perry mengatakan bank sentral memiliki bauran kebijakan mencakup kebijakan moneter yang pro stabilitas, makroprudensial yang pro pertumbuhan ekonomi, dan jaminan likuiditas. “Kenaikan 225 bps ini memadai, jelas sekali. Tidak ada kata-kata yang lebih transparan dengan arah kebijakan ini. forward guidance-nya jelas,” katanya dalam Peluncuran Laporan Perekonomian Indonesia (LPI) 2022, Senin (30/1). Sejalan dengan itu, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada tahun ini berkisar 4,5%—5,3% dengan titik tengah 4,9% mengarah ke 5%. Dalam kesempatan berbeda, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, memandang akselerasi ekonomi bukanlah mimpi mengingat sederet indikator telah berada pada zona hijau.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023