Nyaman Bekerja dari Mana Saja
Karina Claudia Syukur (24), pegawai agensi penjualan daring untuk perusahaan yang ingin mempromosikan jenamanya ditemui Selasa (10/1) pada sebuah café di Bekasi. Ia bekerja dengan lancer karena Internet nirkabel kencang. Sudah empat bulan ia bekerja di agensi itu. Jika di rumah saja, Karina penat juga. Apalagi, pekerjaan bidang e-commerce atau perdagangan elektronik bisa digarap di mana saja. ”Ke kantor hanya seminggu sekali, untuk rapat dan memantapkan koordinasi,” ucapnya. Karina bisa memilih lokasi yang dianggap paling kondusif dengan work from anywhere (WFA) atau bekerja dari mana saja, tetapi ia tak memungkiri pula kendala-kendalanya. ”Waktu, misalnya, kayak enggak dibatasi. Godaannya banyak banget,” ujarnyaTantangannya, mengatur waktu,” ujar warga Jatimulya, Bekasi, tersebut. Ia harus menyiapkan biaya untuk dua hingga tiga kali makan dan minum per minggu. Setiap ke kafe, ia menghabiskan Rp 50.000-Rp 100.000. Ia bosan jika terus dikungkungi tembok. Karina yang ekstrover itu lebih produktif dengan sesekali pergi. Kepala Laboratorium Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unas Jakarta Arni Karina mengingatkan generasi muda yang mengimplementasikan WFA untuk tidak kebablasan karena lapar mata ketika bekerja di luar. Dia menarik benang merah terkait pekerja muda yang tidak memikirkan investasi. ” Kemampuan pegawai pemula membeli kebutuhan urgen, rumah, misalnya, semakin lemah,” ucapnya. Banyak karyawan memilih menghabiskan uangnya dengan liburan
Intan Aprilia (28) sengaja mencari kantor yang memperbolehkannya WFA, setelah ia bekerja dari rumah di kantor lama akibat pandemi. Sejak Mei 2022, Intan bekerja sebagai content strategist perusahaan teknologi bidang kesehatan yang menerapkan WFA. Ia bekerja dari rumah selama Senin-Jumat. ”Ke kantor buat ketemu doing atau ada acara. Aku bisa dua bulan sekali ke kantor,” ucap warga Sudimara Pinang, Tangerang, Banten, itu. Ia bisa mengatur waktu lebih baik, berolahraga di pusat kebugaran tiga kali seminggu. Selain itu, pengeluaran makan, jajan, kosmetik, dan transportasi lebih hemat. Intan mengakui sejumlah tantangan, ia harus janjian untuk rapat virtual dengan rekan kerja di berbagai lokasi di Indonesia dan Eropa. Tantangan lain, pentingnya menjaga interaksi langsung dengan rekan kantor untuk sekadar mengingatkan bahwa ia memiliki tim, melepas unek-unek, atau mengobrol. Selain mengerjakan tugasnya, Intan rata-rata mengikuti rapat virtual 12 kali seminggu. Lama rapat 15 menit sampai satu jam. Bila suntuk, ia memilih untuk bekerja di kafe bersama teman-teman dari kantor lamanya. Intan pergi ke kafe tiga kali sebulan. Intan mematok maksimal pengeluaran sekitar Rp 150.000 sekali ke kafe. Berkat kesadaran finansialnya, Intan bisa menabung 50 % dari gaji. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023