;

Dampak Ganda Pembukaan China

Ekonomi Yoga 14 Jan 2023 Kompas
Dampak Ganda Pembukaan China

Keputusan Pemerintah China mencabut semua kebijakan nihil Covid-19 dan membuka diri kembali dalam waktu singkat membawa harapan besar bagi kalangan investor dunia. Hanya saja, membuka diri terlalu cepat justru bisa memicu tekanan inflasi. Dampak pembukaan kembali China, negara berperekonomian terkuat kedua di dunia, di pasar-pasar keuangan ini sangat penting. Apalagi setelah China mengalami kerugian sampai dua digit tahun lalu karena inflasi dan suku bunga yang melonjak. Pasar negara berkembang, komoditas mata uang, minyak, perjalanan, dan perusahaan mewah Eropa disebut-sebut akan menjadi tumpuan China untuk memulihkan perekonomian. Perjalanan ini tidak akan mudah bagi China karena banyaknya persoalan yang akan dihadapi. China menghadapi lonjakan kasus Covid-19 meski dampak dari lonjakan ini pada perekonomian belum terasa. Namun, harga komoditas sudah naik. Ini menambah risiko inflasi bagi China. Untuk sementara ini, kalangan investor lebih memusatkan perhatian pada hal-hal positif sambil mengantisipasi lebih banyak langkah stimulus dari China. Selain itu, mereka berharap krisis kesehatan dan krisis ekonomi China akan mencapai puncaknya pada triwulan I-2023.

”Keputusan China membuka diri kembali terlihat cukup bagus. Ada banyak kredit dan stimulus fiskal yang dimasukkan China ke dalam sistem. Stimulus itu berhasil,” kata Edward Al Hussainy, analis suku bunga dan mata uang senior di Columbia Threadneedle, dikutip kantor berita Reuters, Jumat (13/1). Pembukaan kembali China juga menghilangkan risiko resesi. Goldman Sachs memperkirakan ekonomi zona euro tumbuh 0,6 % pada tahun ini dibandingkan perkiraan kontraksi sebelumnya. Kepala Investasi untuk Invetasi Inti di AXA Investment Managers Chris Iggo mengatakan, tingkat permintaan di China akan mengimbangi narasi di Barat bahwa permintaan konsumen dan pengeluaran bisnis melambat karena suku bunga naik. Amundi, mengatakan, pembukaan kembali China dapat menandai ”titik balik” untuk ekuitas pasar negara berkembang. Namun, dorongan dari pembukaan kembali China memunculkan kekhawatiran akan terjadinya inflasi. China merupakan importir minyak terkemuka dunia dan banyak komoditas lainnya. Harga minyak sudah naik 10 % sejak pertengahan Desember 2022 hingga 84 USD per barel. Pembukaan kembali China bisa mendorong Bank Sentral Eropa menaikkan suku bunga lebih lama karena inflasi euro sebagian besar didorong oleh energi. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :