;

Menilik Gagasan Beleid Anyar Pengaman Devisa

Ekonomi Hairul Rizal 13 Jan 2023 Bisnis Indonesia
Menilik Gagasan Beleid Anyar Pengaman Devisa

Penurunan harga komoditas pada pengujung 2022 seperti bunyi alarm yang membangunkan Indonesia setelah dininabobokan bonanza komoditas tahun lalu.Kinerja ekspor mencetak rekor yang didorong oleh lonjakan harga energi, pangan, dan logam akibat perang Rusia-Ukraina. Sepanjang Januari-November 2022, ekspor migas dan nonmigas tercatat US$268 miliar, rekor baru yang belum pernah dilihat sebelumnya. Namun, performa itu mungkin tidak terlihat lagi tahun ini. Sejak pertengahan 2022, kenaikan harga komoditas mulai melambat dan kemudian turun pada akhir tahun, termasuk tiga komoditas utama ekspor Indonesia, yakni logam, minyak sawit, dan batu bara. Potensi pelemahan ekspor tahun ini bisa menjadi ancaman bagi stabilitas rupiah yang tahun lalu cukup bergejolak, diombang-ambing sentimen pengetatan moneter Amerika Serikat. Posisi cadangan devisa per Desember 2022 senilai US$137,2 miliar, menguap US$7,7 miliar dalam setahun. Bank Indonesia menggunakannya untuk mengintervensi pasar saat rupiah terkapar melawan dolar, tetapi pada saat yang sama, valas hasil ekspor yang masuk ke dalam negeri tak optimal. Kondisi ini pada akhirnya menjadi alasan pemerintah untuk mengutak-atik aturan devisa hasil ekspor (DHE).

Beleid juga tidak mewajibkan lama DHE harus disimpan di bank dalam negeri. Pemerintah hanya menerapkan pajak regresif bagi dana yang ditempatkan di rekening khusus DHE. Jika DHE ditempatkan 1 bulan, maka dikenai tarif pajak 10%. Jika ditempatkan 3 bulan, maka dikutip pajak 7,5%, jika ditempatkan 6 bulan, tarif pajak 2,5%, dan di atas 6 bulan dikenai pajak 0%. Bank Indonesia nantinya akan memberikan insentif lewat instrumen operasional moneter valas BI berupa suku bunga lelang term deposit valas (TDV). BI sempat menyebut suku bunga TDV 3,75%-4%. Adapun, tingkat bunga penjaminan valas yang ditetapkan Lembaga Penjamin Simpanan saat ini 1,75%. Bank nantinya bisa mendapatkan spread dari nasabah. Direktur Eksekutif Segara Research Institute Piter Abdullah mengatakan bunga instrumen moneter tidak bisa dibandingkan dengan suku bunga deposito valas di Singapura.

Tags :
#Devisa
Download Aplikasi Labirin :