Beban Ganda Pengimpor Pangan
Negara-negara pengimpor pangan tengah terjerat double burden. Beban ganda itu adalah masih tingginya harga komoditas pangan dan depresiasi nilai tukar mata uang akibat penguatan dollar AS. Biaya impor makin tinggi sehingga memengaruhi kenaikan harga di tingkat konsumen. Konferensi Perdagangan dan Pembangunan PBB (UNCTAD) melaporkan hal itu dalam ”A Double Burden: The Effects of Food Price Increases and Currency Depreciations on Food Import Bills”. Laporan yang dirilis 16 Desember 2022 itu menunjukkan salah satu imbas dari ketidakpastian ekonomi global di tengah ber- lanjutnya pandemi Covid-19 dan perang Rusia-Ukraina. UNCTAD menyebutkan, harga pangan global memang telah turun, tetapi masih tinggi dibandingkan sebelum pandemi Covid-19. Indeks harga pangan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) pada November 2022 masih tinggi, yakni 135,7, setelah mencapai level tertinggi sepanjang masa pada Maret 2022 sebesar 159,3. Bersamaan dengan itu, dollar AS makin menguat karena bank sentral AS, The Federal Reserve, menaikkan suku bunga acuan untuk menekan inflasi. Dollar AS naik 24 % sepanjang Mei-Oktober 2022. ”Kendati masih tinggi, harga pangan telah turun, namun posisi dollar AS yang merupakan mata uang utama perdagangan global makin kuat.
Kombinasi harga pangan dan penguatan dollar AS menjadi beban ganda negara-negara berkembang importir pangan,” sebut laporan itu. Berdasarkan penelitian UNCTAD di Mesir, Etiopia, Mauritius, Pakistan, Peru, dan Thailand, nilai tukar berdampak signifikan terhadap harga pangan, terutama gandum. Pada Oktober 2022, harga rata-rata gandum 89 % lebih tinggi dari Oktober 2020. Selama periode yang sama, rata-rata nilai tukar dollar AS terhadap mata uang nasional masing-masing tersebut naik 10-46 %. Hal itu menyebabkan biaya impor gandum dengan volume sama meningkat tajam. Mesir, misalnya, importir gandum terbesar di dunia dengan total 13,2 juta ton pada 2020. Pada 2022, Mesir harus membayar tambahan biaya impor komoditas itu 3 miliar dollar AS, setara 20 persen biaya impor pangan Mesir 2020. Di Indonesia harga rata-rata nasional tepung terigu per 22 Desember 2022 sebesar Rp 13.100 per kg, naik 31 % dari 22 Desember 2020 yang sebesar Rp 10.200 per kg. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) memproyeksikan nilai tukar rupiah pada 2023 berada di kisaran Rp 15.000-Rp 15.800 per dollar AS. Ketua Umum Apindo Hariyadi B Sukamdani mengatakan, hal itu akan membuat pelaku usaha dan industri yang bergantung pada bahan baku impor makin terbebani. Pasti akan ada biaya tambahan impor yang memengaruhi biaya produksi dan harga jual produk jadi di tingkat konsumen.Tak hanya menyangkut kedelai dan gandum, harga gula mentah yang dibutuhkan industri rafinasi penopang industri makanan-minuman juga akan terpengaruh. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023