”Jalan Tol” Pekerja Migran Nonprosedural
Sejak Mei 2022, sedikitnya 200 pekerja migran Indonesia setiap hari diberangkatkan secara nonprosedural menggunakan dua kapal feri dari pelabuhan internasional di Batam, Keri, menuju Tanjung Pengelih, Malaysia. Petugas terkait di pelabuhan Batam tak mencegah pekerja migran Indonesia ke Malaysia tak sesuai prosedur resmi. Berawal dari laporan aktivis pekerja migran Batam, RD Chrisanctus Paschalis, yang menumpang kapal feri MV Allya Express 3, Selasa (6/12). Saat itu, kapal dari Pelabuhan Internasional Batam Centre mengangkut 140 calon pekerja migran Indonesia tanpa dokumen kerja resmi ke Pelabuhan Feri Tanjung Pengelih. Mereka masuk Malaysia hanya berbekal paspor. Padahal, Pasal 13 UU No 18 Tahun 2017 tentang Pelindungan Pekerja Migran Indonesia mengamanatkan, selain paspor, calon pekerja migran Indonesia harus memiliki visa kerja, perjanjian kerja, dan lima dokumen lainnya. ”Petugas imigrasi membiarkan pekerja migran Indonesia yang mengaku pelancong berangkat ke Malaysia begitu saja. Petugas seharusnya tahu tidak ada pelancong ke Malaysia lewat Tanjung Pengelih,” kata Paschalis, Sabtu (10/12). Tanjung Pengelih jauh dari pusat keramaian Malaysia. Warga negara Indonesia yang ingin melancong ke Malaysia pasti masuk melalui Pelabuhan Feri Stulang Laut atau lewat Pelabuhan Feri Pasir Gudang. Paschalis mengatakan, para pekerja migran tanpa dokumen diloloskan karena petugas berkoordinasi dengan sindikat yang memberangkatkan mereka.
Dalam manifes (daftar) penumpang kapal ada empat kode rahasia di belakang nomor tiket para penumpang kapal feri tujuan Tanjung Pengelih, meliputi OD, BCK, SY, dan RS, inisial empat penyelundup pekerja migran Indonesia. Kompas ke Malaysia, Minggu (11/12), lewat rute Paschalis. Saat itu, jumlah penumpang kapal MV Dolphin 5 dari Batam ke Tanjung Pengelih hanya sembilan orang. Lima di antaranya warga negara Malaysia. Seorang penumpang, SY, menilai hal itu tak seperti biasanya. Menurut dia, kapal ke Tanjung Pengelih biasanya penuh sesak. Ia lalu bertanya kepada ABK MV Dolphin 5. ”Imigrasi sedang ada operasi,” ujar ABK itu singkat. Sampai di Pelabuhan Feri Tanjung Pengelih, Malaysia, EV, penumpang tujuan Batam, membenarkan cerita SY. Kapal dari Batam menuju Pengelih tak pernah sepi penumpang, 90 % penumpang kapal Allya dan Dolphin ke Tanjung Pengelih adalah pekerja migran nonprosedural. EV menambahkan, selalu ada dua bus yang siaga di Tanjung Pengelih untuk mengangkut ratusan pekerja migran itu ke Kuala Lumpur. Kepala Perwakilan Ombudsman Kepri Lagat Siadari menyatakan kerap mendengar laporan mengenai Pelabuhan Batam Centre untuk memberangkatkan pekerja migran nonprosedural. ”Tak tertutup kemungkinan mereka juga terlibat, (bisa) dari oknum pengelola pelabuhan, polisi, imigrasi, ataupun BP2MI (Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia),” ucap Lagat, Selasa (13/12). Kapolsek Kawasan Pelabuhan Ajun Komisaris Awal Sya’ban Harahap, Rabu (14/12), mengatakan, pihaknya telah menangkap anggota sindikat RS. Empat anggota RS ditangkap awal November 2022. ”Jika ada anggota polsek yang bermain, laporkan saja. Saya tindak,” kata Awal. (Yoga)
Tags :
#Isu LokalPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023