Bangun Pertahanan, Perkuat Sumber Pertumbuhan
Tahun 2023 diakui sebagai tahun yang sulit karena penuh ketidakpastian. Memasuki tahun tersebut pun tidak mudah. Pada 2022, dunia masih menghadapi belum pulihnya rantai pasok akibat pandemi Covid-19. Meletusnya perang Rusia-Ukraina yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan negaranegara anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), menimbulkan masalah geopolitik yang melambungkan harga energi dan pangan dunia. Sejumlah negara pun memasuki resesi ekonomi disertai hiperinflasi dan lonjakan suku bunga. Istilah perfect storm mengemuka untuk menggambarkan kondisi ekonomi global tahun 2023 yang akan tersapu tiga badai sekaligus yakni badai inflasi tinggi atau hiperinflasi, kontraksi ekonomi, dan masalah geopolitik. Hiperinflasi memaksa otoritas moneter menaikkan suku bunga secara agresif yang menyebabkan ekonomi masuk ke jurang resesi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada kuartal I-2022 pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,01%, lalu meningkat menjadi 5,44% pada kuartal II-2022. Sementara itu pada kuartal III-2022 pertumbuhan ekonomi mencapai 5,72%. Pada tahun ini pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,2%. (Yetede)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023