Pelindungan Pekerja Migran Belum Optimal
Peringatan Hari Migran Internasional yang diselenggarakan Minggu (18/12) diwarnai gugatan soal belum optimalnya pelindungan pekerja migran, baik sebelum maupun seusai penempatan. Padahal, kerentanan yang dialami pekerja migran semakin variatif, termasuk adanya modus baru perekrutan untuk melakukan penipuan siber. Di sisi lain, pemerintah menyatakan, berbagai kebijakan perbaikan tata kelola penempatan telah dilakukan, mulai pembentukan layananterpadu satu atap hingga satuan tugas. Dalam perayaan Hari Migran Internasional 2022 yang diselenggarakan oleh Migrant Care, Minggu, Direktur Eksekutif Migrant Care Wahyu Susilo mengatakan, pandemi Covid-19 menambah potensi kerentanan yang dihadapi pekerja migran. Pada awal pandemi, sejumlah pekerja migran Indonesia sektor domestik di Hong Kong, Taiwan, dan Singapura ikut berisiko terpapar Covid-19 karena diminta majikan berburu perlengkapan protocol kesehatan. Kasus kekerasan yang berujung kematian di negara penempatan masih terjadi, setiap tahun, 500 jenazah pekerja migran Indonesia dipulangkan ke NTT.
Ia berharap cara pandang ongkos dan untung terkait jasa pekerja migran perlu diakhiri. Masalah kerentanan klasik yang berulang adalah perekrutan pekerja migran Indonesia menjadi PRT di negara-negara konflik. Pekerja migran di sektor kelautan juga mengalami eskalasi kerentanan. Pada 2022, muncul modus perekrutan calon pekerja migran, tetapi berujung perdagangan manusia untuk keperluan praktik penipuan siber. ”Kami mengadakan musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang) dengan mengajak sejumlah pekerja migran Indonesia. Tujuannya menginventarisasi masalah, evaluasi implementasi peraturan terkait pekerja migran, beserta solusi berupa peta jalan pelindungan pekerja migran,” katanya. Regional Program Officer Building and Wood Worker’s International (BWI) Khamid Istikhori berpendapat senada. Pasar tenaga kerja migran di mana pun saat ini sedang tidak baik-baik saja. Kasus-kasus kekerasan tetap berulang dan tidak hanya dialami warga negara Indonesia yang menjadi pekerja migran. Contohnya keluarga pekerja migran yang membangun fasilitas Piala Dunia Qatar 2022 masih menunggu kompensasi kecelakaan kerja. (Yoga)
Tags :
#Isu LokalPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023