BATIK LASEM Pemasaran melalui Metaverse Dijajaki
Pengusaha batik terus berinovasi memasarkan produk mereka secara daring, seperti melalui media sosial dan situs di internet. Tidak hanya itu, para perajin batik di Lasem, Rembang, Jateng, juga mulai menjajaki dunia virtual atau metaverse. Saat Covid-19 mewabah, para perajin batik merasakan kunjungan wisatawan ke daerah batik di Lasem berkurang drastis. Akibatnya, penjualan kain batik berkurang. Melalui Tim Kedaireka Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang, para perajin batik tulis Lasem dapat menjual produknya secara daring dalam bentuk tiga dimensi. Ketua Peneliti Kedaireka Metaverse Batik Lasem Ridwan Sanjaya menjelaskan, kehadiran inovasi ini sebagai bentuk jawaban dari tantangan yang dihadapi saat pandemi Covid-19 dan perubahan akses jalan pantura. Menurut Ridwan, inovasi ini dapat menjadi solusi alternatif penjualan produk batik tulis Lasem. Melalui metaverse atau ruang tiga dimensi (metasmesta), konsumen bisa merasakan seperti datang secara langsung dan melihat secara nyata kain batik, meskipun mereka hanya menyaksikan secara virtual.
”Kami memberi pengalaman berbeda. Dahulu orang datang mau beli, kan, kainnya diambil lalu dibuka. Sementara di metaverse, semua bisa tampil. Ada produk-produk yang dipasangkan di maneken sehingga tidak perlu dijahit dahulu baru bisa tahu hasil jadinya seperti apa,” kata Ridwan, saat diskusi Metaverse Ruang Virtual Masa Depan Pelestarian Batik Lasem, Minggu (18/12). Anggota tim Kedaireka Metaverse Batik Lasem, Freddy Koeswoyo, menambahkan, hingga saat ini ada 40 mitra pebatik di Lasem yang sudah bergabung, masing-masing mendapatkan 14 ruang pameran di platform Metaverse batik.com. Freddy menambahkan, pemasaran secara virtual bisa juga dipakai untuk mengedukasi masyarakat mengenai sejarah dan motif kain batik. Hal ini yang kemudian akan terus dikembangkan lebih lanjut di dalam metaverse Batik Lasem. Perajin batik Kidang Mas Lasem, Rudi Siswanto, menyampaikan, platform metaverse menjadi tambahan media penjualan produk batik sehingga jangkauannya lebih luas sampai luar negeri. Rudi berharap, ke depan, semakin banyak perajin batik yang bergabung ke dalam metaverse. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023