;

Mengembalikan Mangrove Lewat Budidaya Tambak Ramah Lingkungan

Ekonomi Yoga 20 Nov 2022 Kompas
Mengembalikan Mangrove Lewat Budidaya Tambak Ramah Lingkungan

Fitriadi (42) sudah 18 tahun menjadi pengawas tambak seluas 10 hektar di Desa Simpang Tiga Abadi, Kecamatan Tulung Selapan, OKI, Sumsel, Rabu (16/11). Tambak yang ia jaga berada 1 km dari pesisir Selat Bangka. Di antara tambak dan garis pantai terdapat hutan bakau (mangrove). Kawasan hutan mangrove itu sejak 2018 berstatus hutan Kemasyarakatan (HKm). Sebelum tahun 2018, ujar Fitriadi, jumlah bandeng yang bisa diperoleh dalam satu kali masa panen mencapai 2 ton. Sementara udang windu bisa mencapai 1 ton. Namun, dalam empat tahun terakhir, jumlahnya menurun. Hasil panenan bandeng hanya 500 kg dan udang 300 kg. Selain produktivitas menurun, waktu pemeliharaan juga semakin panjang. Untuk bandeng, bisa delapan bulan, lebih lama dari biasanya, yakni enam bulan. Adapun udang yang biasanya hanya tiga bulan pemeliharaan kini menjadi enam bulan. Ia menduga penurunan hasil panen disebabkan kondisi cuaca yang tidak menentu yang berdampak pada menurunnya kualitas air. Penurunan hasil tambak ini berkesesuaian dengan pembukaan tambak yang kian masif empat tahun terakhir. Pembabatan mangrove semakin meluas. Tingginya pembukaan tambak dipicu oleh peluang pasar yang semakin menggiurkan. Namun, dampak perambahan hutan bakau kian terasa. Menurunnya kualitas air di dalam tambak membuat pertumbuhan udang dan bandeng berkurang.

Hendra (45) berkata, untuk mendapatkan harga tinggi, ukuran bandeng setidaknya 500 gram per ekor. Nyatanya kini lebih banyak bandeng yang berukuran 100 gram per ekor. ”Semakin kecil ukuran bandeng akan semakin sulit dijual, kata Hendra. Bandeng yang berukuran 500 gram per ekor bisa dihargai Rp 15.000 per kg. Adapun bandeng dengan ukuran 100 gram hanya  Rp 2.500 per kg. Melihat produksi petambak terus turun, pemerintah desa mengimbau warga, terutama pendatang, agar tidak lagi membabat hutan bakau untuk membuka tambak baru. Warga disarankan memanfaatkan tambak yang sudah ada seoptimal mungkin. ”Jika hutan bakau terus dibabat, saya khawatir hasil tambak juga tidak akan terus merosot,” ucap Sekdes Simpang Tiga Abadi Imam Khoiri. Berdasarkan penelitian Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), pembukaan tambak menjadi penyebab utama tergerusnya lahan mangrove di Sumsel, termasuk di Kabupaten OKI. Manager Program Aliansi Restorasi Ekosistem Mangrove (Mangrove Ecosystem Restoration Alliance/MERA) Deni Setiawan mengutarakan, berdasarkan pantauan citra satelit, sebaran mangrove di Sumsel terus terkikis dalam 31 tahun terakhir. Pada tahun 1990, luasan mangrove di Sumsel 208.626 hektar, dan pada 2021 hanya 186.243 hektar. Program MERA dicanangkan untuk mengembalikan fungsi mangrove demi tetap terjaganya kelestarian lingkungan. (Yoga)


Tags :
#perikanan
Download Aplikasi Labirin :