Xi-Biden Akan Jadi Sorotan
Dalam jumpa pers Sabtu lalu, Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, 16 pemimpin negara, ditambah satu kepala organisasi kawasan, akan hadir dalam KTT G20 yang digelar 15-16 November di Nusa Dua, Bali. Tiga kepala negara yang tak hadir adalah Presiden Brasil, Presiden Meksiko, dan Presiden Rusia. Sebelumnya, banyak pihak memberi perhatian pada rencana kehadiran Putin. Kini perhatian diarahkan pada rencana pertemuan bilateral Biden dan Presiden China Xi Jinping. Serangan Rusia ke Ukraina membuat perseteruan Barat-Rusia menguat. Ketegangan berimbas pada situasi di tubuh G20. Sempat mengemuka niat ketidak hadiran sejumlah pemimpin Barat di KTT jika Putin datang. Namun, melalui upaya diplomatik dan komunikasi yang intens oleh Presiden Jokowi serta semua jajaran kabinet, termasuk Menlu Retno Marsudi dan Menkeu Sri Mulyani, serta beragam kalangan, ketegangan tampak mereda.
Sejumlah kesepakatan tercapai, salah satunya Dana Pandemi. Kalangan dunia usaha juga setuju berupaya meredakan ketegangan geopolitik antar-anggota G20. Ketidakhadiran Putin dapat dilihat dari perspektif lebih positif. Rusia ”memberi ruang” lebih leluasa bagi para pemimpin G20 untuk berdialog. Putin tak mau KTT G20 kehilangan fokus dan menjadi lahan perdebatan politik. Setelah situasi ”lebih reda”, mata dunia tertuju pada Presiden Xi Jinping dan Presiden Joe Biden yang dikabarkan akan menggelar pertemuan di Bali. Kedubes AS di Jakarta mengatakan belum bisa memastikan agenda bilateral itu. Demikian pula Kedutaan Besar China di Jakarta yang belum mau mengabarkan jadwal kedatangan Xi dan jadwal pertemuan bilateralnya.
Dari informasi yang beredar sepekan terakhir,Biden dan Xi dipastikan bertemu. AS ingin membahas empat hal dengan China, yaitu uji coba rudal nuklir Korea Utara, sikap China terhadap invasi Rusia ke Ukraina, peningkatan intrusi China di Selat Taiwan, dan perang dagang serta rantai pasok. Pertemuan Biden-Xi ini merupakan yang pertama secara langsung setelah Biden dilantik menjadi Presiden AS tahun 2021. Mereka pertama kali bertemu ketika menjabat sebagai wakil presiden negara masing-masing tahun 2011. Pertemuan langsung itu penting karena hubungan AS-China dan situasi dunia saat ini kompleks. ”Pembahasan daring tak memadai. Pertemuan langsung memungkinkan terjadinya berbagai gestur maupun lisan yang lebih kaya dan bermakna dibandingkan sekadar obrolan politik,” kata dosen Universitas Hubungan Internasional China, Xiong Zhiyong. (Yoga)
Tags :
#BilateralPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023