KTT G20, Titik Lenting Pemulihan Ekonomi Bali
KTT G20 membuat Bali menggeliat setelah dua tahun dibelit pandemi Covid-19. Banyak harapan momentum internasional itu akan menjadi titik lenting pemulihan ekonomi Bali. Hal tersebut dirasakan Johan (35), warga Kuta yang sehari-hari bekerja sebagai sopir angkutan berbasis daring. Selama pandemi, rasanya Bali tidak bisa apa-apa. Daerah yang sangat bergantung pada sektor wisata ini benar-benar jatuh akibat pandemi. Saya habis-habisan untuk bisa makan,” kata pria asal Flores tersebut. ”Saya sampai jual mobil, benar-benar habis untuk makan dan membayar biaya sekolah,” kata Johan. Saat ini Johan berusaha bangkit dan menjalankan angkutan daring menggunakan mobil sewaan, sebesar Rp 250.000 per hari. Ia optimistis perekonomian Bali akan pulih. Salah satunya melalui perhelatan KTT G20. Johan berpikir sederhana. KTT G20 adalah pertemuan para kepala negara. Jika acara sukses, para pemimpin negara asing bisa menyuarakan kepada warga mereka betapa Bali sangat nyaman sebagai tempat wisata. Dengan demikian, banyak orang akan kembali memilih Bali untuk berwisata. Dua pekan ini, Johan sudah 20 kali mengantar orang berkunjung ke pusat oleh-oleh. Mereka, antara lain, orang-orang Jakarta yang dinilai Johan menyiapkan KTT G20. Pendapatan hariannya naik hingga 30 %.
Ayu Adnyawati (52), pegawai toko oleh-oleh khas Bali diluar kawasan Nusa Dua, Kabupaten Badung, mengakui tokonya terimbas dampak se pinya pariwisata Bali akibat pandemi Covid-19. Saat itu pendapatan toko tempatnya bekerja nol. Ayu mengatakan, toko oleh-oleh itu sekarang mulai kembali didatangi pembeli, menyusul pembukaan kembali pintu masuk internasional dari dan ke Bali sejak Maret 2022. ”Tamu mulai ramai ke Bali. Kami dapat kembali berdagang meskipun tidak seramai masa sebelum pandemi Covid-19,” ujar Ayu. Menurut Ayu, dari pengalamannya, penyelenggaraan konferensi internasional di kawasan Nusa Dua mungkin tidak akan berdampak langsung terhadap penjualan oleh- oleh. Namun, Ayu berharap penyelenggaraan acara puncak KTT G20 di Nusa Dua akan memberikan dampak positif bagi Bali dan Indonesia secara keseluruhan. ”Mudah-mudahan tamu internasional makin percaya kepada Bali,” katanya.
Harapan dan doa banyak pihak bukan omong kosong. Situasi ekonomi Bali mulai membaik. Sejumlah lembaga resmi pemerintah mencatat pertumbuhan ekonomi Bali makin positif pada semester II tahun 2022. Meski begitu, perbaikan ini masih sepertiga dari kondisi normal sebelum pandemi. BPS mencatat, selama Juli-September 2022, perekonomian Bali tumbuh 8,09 % dibandingkan periode yang sama tahun 2021. Dalam catatan BI, pada 2020, ekonomi Bali mengalami kontraksi minus 9,31 % dibanding tahun sebelumnya. Memasuki 2022, pertumbuhan ekonomi mencatat kinerja positif. KTT G20 diharapkan menguatkan pertumbuhan ekonomi Bali. Sektor akomodasi, makanan, dan minuman menjadi penopang utama, diikuti sektor pertanian, konstruksi, dan perdagangan. ”G20 memberi sumbangsih sekitar 1 persen terhadap PDB Bali,” kata Kepala BI Bali Trisno Nugroho, Senin (7/11), di Denpasar.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023