Industri Pertekstilan di Ambang Keterpurukan
Industri tekstil dan produk tekstil atau TPT di Indonesia tengah di ambang keterpurukan. Melemahnya pasar ekspor, disertai gempuran produk impor tekstil ke pasar domestik membuat pelaku industri hulu-hilir kian terimpit. Selama Januari-September 2022, sejumlah pabrik berhenti beroperasi dengan PHK mencapai 70.000 orang. Ketum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jemmy Kartiwa Sastraatmaja mengatakan, ketidakpastian ekonomi global akibat pandemic Covid-19 dan efek perang Rusia-Ukraina terus memicu stagflasi, pelemahan daya beli, dan menghambat industri TPT. Pelemahan pasar kian dirasakan sejak triwulan III (Juli-September) 2022, ditandai dengan permintaan penundaan pengiriman produk sampai ke awal tahun 2023.
Pelemahan ekspor TPT tidak hanya terjadi pada Indonesia, tetapi juga negara-negara pesaing pengekspor tekstil, seperti China, India, Bangladesh, dan Vietnam. Negara-negara itu terus mengalihkan pasar, salah satunya ke Indonesia yang dianggap potensial. Akibatnya, pemasaran produk TPT dalam negeri tidak maksimal karena produk impor tekstil terus membanjiri pasar. Jemmy menambahkan, industri tekstil saat ini sudah mulai mengurangi jam kerja, mengurangi karyawan, bahkan terjadi PHK. Oleh karena itu, perlu segera dipikirkan jalan keluar untuk meminimalisasi dampak krisis ekonomi global yang berlanjut hingga tahun 2023. Pemerintah diharapkan segera melakukan intervensi untuk mengamankan pasar domestic melalui pengetatan izin impor, serta tidak memberikan izin importasi untuk produk TPT yang sudah diproduksi di dalam negeri. (Yoga)
Tags :
#TekstilPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023