Alternatif Pasar Udang Perlu Digarap
Harga komoditas udang yang merupakan primadona ekspor perikanan sedang terpuruk. Merosotnya harga udang hingga 45 % memukul petambak Tanah Air. Strategi pasar perlu diterapkan untuk menggarap pasar alternatif dan fokus menghasilkan produk udang bernilai tambah. Ketm Asosiasi Produsen, Pengolahan, dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia Budhi Wibowo mengungkapkan, penurunan harga udang internasional dipicu resesi ekonomi global. Komoditas udang tetap diminati, tetapi terjadi pergeseran pasar, di antaranya minat terhadap udang berukuran lebih kecil. ”Konsumen tetap makan udang, tetapi memilih beli udang berukuran kecil yang harganya lebih murah,” kata Budhi saat dihubungi, Selasa (11/1/2022).
Selama ini, ekspor udang asal Indonesia didominasi untuk tujuan AS, sekitar 70 % total ekspor udang. Indonesia adalah salah satu pemasok utama udang ke AS, terutama untuk produk udang olahan dan udang berukuran besar. Sejak pandemic Covid-19, mulai terjadi pergeseran pasar. Pasokan udang berukuran besar ke AS mulai dikuasai Ekuador dan India. Budhi mengemukakan, Indonesia perlu menggarap pasar alternatif yang masih terbuka, seperti Jepang dan Uni Eropa. China juga menjadi pasar potensial. Saat ini, pasar udang yang sedang berkembang yakni udang ukuran 60-80 ekor per kg (ukuran60-80 terutama untuk produk bernilai tambah seperti breaded shrimp dan sushi ebi. (Yoga)
Tags :
#perikananPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023