;

Panti Berjuang untuk Bertahan

Panti
Berjuang
untuk
Bertahan

Saat ini sejumlah pengelola panti asuhan atau lembaga kesejahteraan sosial anak atau LKSA berjuang keras untuk bertahan dalam situasi keuangan yang terbatas menyusul penurunan jumlah bantuan masyarakat dan para donatur di masa pandemi Covid-19. Di sisi lain, panti asuhan dituntut pemerintah untuk meningkatkan mutu dan standar nasional pengasuhan anak. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah panti asuhan mulai menjalankan unit usaha guna mencukupi kebutuhan operasionalnya setiap bulan. Ada yang membuka usaha berjualan makanan dan minuman, termasuk kebutuhan pokok. Beberapa panti asuhan memacu anak-anak asuhnya untuk maju dan berprestasi di sekolah dan mengembangkan kemampuan olahraga dan seninya. Di Tebet, Jaksel, pengelola Panti Asuhan Kampung Melayu harus mencari cara agar kebutuhan operasional panti terpenuhi menyusul sumbangan donatur yang turun sampai 70 %. Selain mengandalkan donatur sebagai pemasukan, mereka juga menjalankan usaha penjualan air minum isi ulang yang peralatannya diberi donatur. Dalam sebulan, pendapatan dari usaha tersebut Rp 4 juta. ”Meski tak seberapa, pendapatan dari penjualan air isi ulang ini cukup membantu kebutuhan anak asuh,” kata Kepala Panti Asuhan Ujang Supratman, Senin (31/10/2022).

Panti Putra Nusa di Kebon Melati, Tanah Abang, Jakpus, yang memiliki 40 anak, selama masa pandemic Covid-19 membuka usaha penjualan kebutuhan pokok. ”Jumlah donatur sudah tidak seperti dulu karena ada yang meninggal, usahanya berkurang, atau bahkan terdampak pandemi Covid-19,” kata Upik, pengelola Panti Putra Nusa bagian putri. Laba dari usaha kebutuhan pokok itu digunakan untuk membiayai pendidikan sebesar Rp 10 juta per bulan, juga untuk makan dan listrik, termasuk uang saku anak-anak asuh. Mengantisipasi keuangan panti asuhan yang sedang menipis, pengelola panti asuhan juga mengatur uang saku anak-anak. Jika lokasi sekolah dekat panti, mereka akan mendapat Rp 5.000 per hari, jika jauh mendapat Rp 20.000-Rp 25.000 per hari. Di Palembang, Sumsel, pengelola Panti Asuhan Cahaya Ummi yang berlokasi di Jalan Seduduk Putih, Kecamatan Ilir Timur II, selain menjalankan efisiensi, juga membuka usaha jual-beli celengan demi membiayai kebutuhan 20 anak asuhnya. ”Saat ini,  donatur bisa dihitung dengan jari. Bantuan pemerintah tidak datang lagi. Padahal, sebelum pandemi kami mendapat dana dari pemerintah Rp 13 juta-Rp 18 juta per bulan,” ujar Nirwana, pemilik Panti Asuhan Cahaya Ummi, Kamis (27/10). (Yoga)


Tags :
#Isu Lokal
Download Aplikasi Labirin :