Saham Jagoan Pelawan Inflasi & Bunga Tinggi
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan kembali diuji kekuatannya. Pekan ini, pelaku pasar akan mencermati dua momen penting terkait indikator makro ekonomi, yang akan menentukan arah IHSG ke depan. Pertama, pengumuman data inflasi Indonesia periode Oktober 2022. Kedua, pengumuman hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) atau rapat dewan gubernur bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed). Hasil konsensus pasar, inflasi Indonesia masih akan berada di kisaran 6% secara tahunan. Angka ini lebih tinggi dibanding inflasi tahunan di periode September 2022 yang tercatat masih di level 5,95%. Sejumlah indeks sektoral pun masih ada yang bertengger di zona merah. Dari 11 indeks sektoral yang ada di BEI, lima di antaranya masih mencatat kinerja negatif sejak awal tahun. Penurunan terbesar diduduki indeks sektor teknologi dan properti yang masing-masing anjlok 27,78% dan 10,61%. Head of Research Jasa Utama Capital Sekuritas Cheril Tanuwijaya ssepakat, kinerja saham konsumer masih prospektif karena pada 2023 seiring ada pemilihan umum. Untuk itu, Cheril menjagokan saham MYOR dan UNVR untuk dikoleksi. Sedangkan Lukman merekomendasikan buy on weakness saham ICBP dengan target harga Rp 10.400, buy INDF dengan target harga Rp 6.800, buy on breakout MYOR dengan target Rp 2.460, dan buy on weakness UNVR dengan target harga Rp 6.000. Sementara Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus memilih saham perbankan sebagai jagoannya. Dia merekomendasikan buy saham emiten bank BUKU IV, yakni BBCA, BMRI, BBNI dan BBRI.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023