Di Bawah Bayang-bayang Inflasi Tinggi Amerika
Biro Tenaga Kerja AS mengumumkan tingkat inflasi 8,2 % secara tahunan pada September 2022. Angka tersebut melandai dari bulan sebelumnya, 8,3 %. Tapi dibandingkan periode yang sama tahun lalu, 5,4 %, angka tersebut masih terhitung tinggi. IMF memperkirakan inflasi AS akan tetap tinggi, mencapai 8,1 % pada akhir 2022. Kendati begitu, bank sentral AS The Federal Reserve terus secara agresif mengerek naik suku bunganya guna menjinakkan inflasi. IMF memperkirakan laju inflasi di AS mulai melandai ke 3,5 % pada 2023 dan 2 % pada 2024.
Tren itu selaras dengan inflasi global yang diperkirakan bakal memuncak ke 8,8 % akhir tahun ini dan mulai melandai ke 6,5 % pada 2023 lalu menuju 4,1 % pada 2024. Sejatinya, kata Konsuler Ekonomi IMF Pierre-Oliver Gourinchas, seperti halnya AS, berbagai negara juga telah memperketat kebijakan moneternya untuk mengendalikan membubungnya inflasi. Hanya, tekanan harga yang terjadi ternyata cukup membandel. "Sejauh ini tekanan harga terbukti cukup keras kepala dan menjadi sumber perhatian utama bagi pembuat kebijakan," ujar Gourinchas, dinukil dari Laporan World Economic Outlook Edisi Oktober 2022 yang dirilis IMF.
Inflasi Indonesia diproyeksikan relatif lebih rendah, yakni 4,6 % pada 2022 dan 5,5 % pada 2023. Kendati demikian, Direktur Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS) Yusuf Wibisono mengingatkan bahwa inflasi tinggi, khususnya di AS, akan memberi risiko ekonomi bagi Indonesia. "Inflasi tinggi memaksa The Fed menaikkan suku bunga acuan secara agresif, sehingga melemahkan perekonomian AS. Hal ini akan ikut menarik perekonomian global untuk juga melemah, karena posisi AS sebagai perekonomian terbesar di dunia," ujar Yusuf. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023