NFT, Ruang Baru bagi Fotografi
Dahulu, saat masih eksklusif dan mahal, belajar memotret harus dilalui dengan magang kepada fotografer profesional. Saat ini, di mana pun dan kapan pun, siapa saja dapat belajar fotografi lewat media sosial, gratis. Dalam proses belajar itulah muncul komunitas-komunitas yang memungkinkan fotografi menjadi lebih berkembang, baik itu secara teknik pemotretan, pencetakan foto, maupun kerja bareng atau kolaborasi demi menghasilkan sebuah karya. Dengan mudahnya seorang fotografer di Tanah Air tiba-tiba bertemu dan berkolaborasi dengan orang yang baru dikenal dari belahan dunia lain. Kemudahan bertemu dan berkolaborasi itu disampaikan oleh Baskara Puraga dalam diskusi di Twitter Spaces, ”Wajah Fotografi: Dari Jurnalistik hingga NFT” yang digelar harian Kompas pada Jumat (16/9).
Mulai 16 September 2022, harian Kompas mulai merilis 57 arsip foto ke dalam blockchain secara bertahap di objkt.com. Foto-foto tersebut merupakan hasil kurasi dari buku Unpublished dan Sportscape. Menurut Baskara Puraga yang diamini oleh Ade Andryani, kemudahan berkolaborasi bukan saja terjadi antar fotografer. Di dunia NFT, seorang fotografer dengan mudah bisa berkolaborasi dengan mereka yang menggeluti berbagai disiplin ilmu dan keahlian. Lewat kolaborasi dengan orang lain, lahirlah karya-karya baru yang diciptakan. Selain menjadi wadah untuk bertemu dan berkolaborasi, dunia blockchain juga menjadi ruang ekonomi baru bagi Baskara dan Ade. Banyak foto yang mereka unggah (minting) di blockchain dibeli dan dikoleksi, baik oleh kolektor maupun sesama pegiat NFT. Mereka bisa menetapkan besaran royalti jika karya mereka dipindah tangankan ke pihak lain. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023