Inovasi Bisnis, Saatnya Memilih Robot
Sebuah perdebatan muncul di Australia ketika ongkos tenaga kerja meningkat, sementara pasokan tenaga kerja di restoran cepat saji tidak memadai. Pilihannya adalah mengubah aturan ketenagakerjaan sehingga anak berusia 13 tahun bisa bekerja di industri itu atau menggunakan robot. Keluhan yang mirip tengah terjadi di banyak negara. Revolusi dunia tenaga kerja tengah terjadi. Restoran cepat saji di Australia sulit mendapatkan pegawai. Jika mendapat pun, tingkat pekerja yang keluar dari pekerjaan itu sangat besar. Laporan Financial Times menyebutkan, mereka kemudian membuat proposal yang menurunkan syarat umur tenaga kerja di industri itu dari 17 tahun menjadi 13 tahun. Di sisi lain, industri juga makin terbebani dengan upah tenaga kerja yang makin mahal. Akan tetapi, proposal itu dinilai kontroversial. Oleh karena itu, muncul ide untuk menggunakan robot dalam mengoperasikan penggorengan dan pembuatan burger. Kabarnya robot ini mampu mengurangi 10 % buruh di satu restoran. Ongkos yang bisa dihemat mencapai 163.000 dollar AS per tahun. Investasi untuk dua robot 60.000 USD. Angka ini bisa kembali dalam waktu empat bulan jika robot bekerja tanpa gangguan.
Menurut laman Singularity Hub, kekurangan tenaga kerja yang parah dan sebagian besar tidak terduga di berbagai sektor ekonomi menjadi pendorong penggunaan robot. Salah satu industri yang paling bermasalah adalah restoran. Tampaknya robot memberikan bantuan yang sangat dibutuhkan untuk urusan layanan makanan. Salah satu robot yang mendapat ”berkah” di tengah masalah saat ini adalah Flippy. Ia menjalankan debutnya tahun 2017 untuk menangani burger di rantai makanan cepat saji di California. Sejak itu Miso Robotics, produsen Flippy, telah memperluas kemampuan robot seperti membuat versi yang dapat memasak sayap ayam, kentang goreng, dan makanan berminyak lainnya. Mereka telah mengumumkan rencana untuk memasang robot di lebih dari 100 restoran tahun ini.
Masa depan penggunaan robot tak terelakkan lagi dalam industri makanan dan industri lainnya. Apalagi minat dan studi tentang robot makin berkembang, bahkan hingga di kalangan anak-anak. Di AS masalah ini sangat nyata. Meskipun 23,8 juta orang AS kehilangan pekerjaan atau setengah menganggur, banyak orang yang melamar pekerjaan manufaktur tidak memenuhi syarat. Perusahaan perekrut mengatakan, di luar keterampilan teknis yang diperlukan, mereka tidak memiliki keterampilan kognitif yang penting. Penggunaan robot di tengah berbagai masalah makin tak terelakkan. Menurut riset lembaga konsultan McKinsey & Company, sejumlah fasilitas yang sangat canggih, seperti penggunaan teknologi digital, otomatisasi, analitik, dan robot, bakal menonjol pada masa depan. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023