MEMITIGASI RISIKO KREDIT SERET
Pascakenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, kalangan perbankan dan multifinance ancang-ancang menyiapkan mitigasi. Sebab, kenaikan harga pangan dan energi yang berisiko menekan daya beli masyarakat diperkirakan bakal menjalar ke rasio kredit bermasalah. Demikian pula dengan permintaan kredit yang berisiko tertekan karena sebagian pelaku usaha mengerem produksi. Perihal situasi tersebut, Direktur Kepatuhan Bank Oke Efdinal Alamsyah mengatakan perseroan masih mempelajari dampak kenaikan BBM pada usaha nasabah bank yang secara tidak langsung bisa berdampak terhadap bank. Kenaikan BBM, katanya, berimbas negatif untuk semua bidang usaha. Akan tetapi, ada beberapa bidang usaha yang terkena dampak yang lebih besar yaitu sektor usaha yang punya ketergantungan tinggi terhadap penggunaan BBM dalam komponen biaya usahanya.
Optimisme diusung PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk. (BJBR). Direktur Utama BJBR Yuddy Renaldi mengatakan bahwa perseroan tetap percaya diri mampu menggenjot penyaluran kredit.
Dia optimistis permintaan kredit BJBR tetap tumbuh di kisaran 8%—11% sampai akhir 2022, khususnya pada kredit-kredit bersubsidi seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP).Adapun, Presiden Direktur PT Bank Pan Indonesia Tbk. (PNBN) Herwidayatmo menuturkan masih terlalu dini untuk menilai dampak dari kenaikan BBM terhadap bisnis bank, termasuk nonperforming loan (NPL) perbankan.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023