;

Produksi Belum Ditopang Pupuk yang Memadai

Ekonomi Yoga 22 Aug 2022 Kompas
Produksi Belum
Ditopang Pupuk
yang Memadai

Sejumlah daerah sentra produksi beras di Tanah Air menikmati keuntungan dari kemarau basah yang terjadi setahun terakhir. Produksi beras meningkat karena pengairan yang terjamin oleh hujan sepanjang tahun. Peningkatan produksi beras dirasakan petani di Kabupaten Sigi, Sulteng, sejak 2021. Asruli (64), petani di Desa Sidera, Sigi Biromaru, menuturkan, produksi beras dari 1 hektar sawahnya sejak tahun lalu hingga panen terakhir pada Mei 2022 berkisar 2-2,5 ton per musim. Sawah diolah dua kali atau dua musim tanam dalam setahun. ”Ini lebih baik dari hasil pada 2020 yang hanya 1,75 ton per musim tanam,” katanya, Minggu (21/8).

Hal sama dialami Aswan (33), petani di Desa Lolu, Sigi Biromaru. Dari 0,5 hektar lahannya, sejak tahun lalu ia menghasilkan 1,2 ton beras per musim tanam, meningkat dua kali lipat ketimbang 2020. Asruli dan Aswan mengakui, produksi beras sebenarnya masih bisa meningkat jika ketersediaan pupuk  bersubsidi terjamin. Selama ini, mereka mendapatkan pupuk lebih sedikit dari idealnya. Asruli, misalnya, mendapatkan empat karung pupuk bersubsidi, masing-masing dua karung jenis urea dan NPK. Padahal, idealnya, sawah 1 hektar membutuhkan enam karung pupuk yang terdiri dari dua karung NPK dan empat karung urea. Dengan pemupukan maksimal, hasilnya diyakini makin meningkat.

Kadis Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sulteng Nelson Metubun mengatakan, data BPS Sulteng mencatat peningkatan produksi beras. Surplus beras Sulteng rata-rata 90.000-120.000 on per tahun. Pada 2021, Sulteng menghasilkan 511.000 ton beras dari sawah seluas 182.000 hektar. Angka itu meningkat 9,43 persen dari 2020 yang sebesar 467.000 ton. Terkait masalah pupuk, Nelson mengakui, alokasi pupuk bersubsidi memang sangat terbatas. Untuk itu, saling berbagi antarkelompok tani jika kelebihan jatah atau tak terserapnya pupuk di satu kelompok menjadi solusi. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :